Tri-Harris Didukung Koalisi Gemuk, Kenapa Perolehan Suara Remuk?

- Editor

Sabtu, 30 November 2024 - 22:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekjen LPKAN Indonesia Abdul Rasyid

Sekjen LPKAN Indonesia Abdul Rasyid

JAKARTA, Mediakarya – Pendukung calon kepala daerah Tri Adhianto-Harris Bobihoe harus menelan pil pahit atas perolehan suara pada kontestasi pemilihan calon Wali Kota Bekasi.

Betapa tidak, Tri merupakan calon kepala daerah dari incumbent, yang seharunya memiliki banyak instrumen dalam meraih kemenangan pada pilkada 2024 ini.

Tapi faktanya, politisi PDI Perjuangan itu harus mengakui keunggulan Heri Koswara-Solihin, yang diusung PKS, PPP, PAN dan PSI.

Sekjen Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara (LPKAN) Abdul Rasyid mengungkapkan, meski kubu Tri sendiri mengklaim telah unggul, namun faktanya berdasarkan perhitungan C1 paslon Herkos-Solihin berhasil memenangi pilkada Kota Bekasi.

“Sah-sah saja mengklaim kemenangan. Tapi data yang dimiliki kubu itu harus dibuktikan. Sebab informasinya, berdasarkan C1, pasangan Herkos-Solihin lebih unggul dari Tri Adhianto-Harris,” ungkap Rasyid kepada wartawan, Sabtu (40/11/20224).

Baca Juga:  Bantah Ingin Turunkan Airlangga, Ridwan Hisjam: Saya Siap Jadi Panglimanya Jika Maju Capres

Menurut dia, kemenangan Herkos merupakan tamparan keras bagi kubu Tri. Sebab pasangan ini didukung oleh koalisi gemuk yang seharusnya mendapat dukungan publik.

“Andai pun (Tri-Harris) mengklaim menang, namun kemenangannya sangat tipis. Dan ini sangat menyakitkan. Dan diperkirakan juga logistik yang dikeluarkan pasangan ini tidak sedikit,” tegasnya.

Belum lagi, isu soal kasus hukum yang saat ini dilaporkan oleh kelompok masyarakat, baik itu di KPK dan Kejagung juga belum selesai.

“Bahkan ada yang memprediksi jika pun Tri menang maka akan mengulang sejarah, seperti kepala daerah sebelumnya bakal berurusan dengan hukum,” ucapnya.*”

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar
Fahd Dicokok KPK, Loyalis Ranny Fahd Arafiq Galang Dukungan Maju  pada Musda Golkar Kota Bekasi
GNK Sebut Kasus Hukum Fahd Arafiq Tamparan Keras bagi DPP Golkar
Pencopotan Purbaya dari Jabatan Menkeu Langgar Etika Bernegara
Kasus OTT KPK Mengubur Wacana Sandingkan Tri Adhianto-Ranny Fahd Arafiq pada Pilkada Mendatang
Koalisi Partai Pendukung Pemerintah Sepakat Dukung Batas Parlemen 5 Persen
Dinamika Jelang Musda Golkar Kota Bekasi, Analis Ini Ingatkan Potensi Perpecahan
Elektabilitas Golkar Disalip Gerindra dan PDIP, Inisiator GNK: Saatnya DPP Berbenah

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 07:50 WIB

Kritik Dijawab dengan Makian: Cermin Psikologi Kekuasaan yang Tak Sanggup Mendengar

Selasa, 22 September 2026 - 11:27 WIB

Fahd Dicokok KPK, Loyalis Ranny Fahd Arafiq Galang Dukungan Maju  pada Musda Golkar Kota Bekasi

Jumat, 18 September 2026 - 07:39 WIB

GNK Sebut Kasus Hukum Fahd Arafiq Tamparan Keras bagi DPP Golkar

Jumat, 18 September 2026 - 06:35 WIB

Pencopotan Purbaya dari Jabatan Menkeu Langgar Etika Bernegara

Jumat, 18 September 2026 - 06:14 WIB

Kasus OTT KPK Mengubur Wacana Sandingkan Tri Adhianto-Ranny Fahd Arafiq pada Pilkada Mendatang

Berita Terbaru

Ilustrasi (Sumber AI))

Opini

Pendidikan Berpancasila untuk Indonesia Maju 

Rabu, 23 Sep 2026 - 08:01 WIB