HUT Bhayangkara ke-79, Etos Indonesia: Polri Harus Belajar dari TNI

- Editor

Selasa, 1 Juli 2025 - 22:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah

Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute Iskandarsyah

JAKARTA, Mediakarya – Narkoba telah menjadi ancaman serius bagi masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Hal ini berdampak pada rendahnya produktivitas, kerusakan kesehatan, kerusakan sosial, dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan tindakan kriminalitas.

Direktur eksekutif Etos Indonesia Institut, Iskandarsyah menilai bahwa persoalan narkoba bukan perkara sepele. Karena peredaran narkoba di tahan air bukan hanya di tataran masyarakat biasa, namun diduga sudah masuk kepada jaringan institusi tertentu, dari level atas hingga bawah.

Iskandar menilai meski persoalan narkoba di tanah air menjadi musibah bagi masyarakat. Namun demikian diduga ada saja oknum penegak hukum yang memanfaatkan kasus tersebut menjadi cara efektif untuk mendapatkan uang cepat.

“Seperti, ketika rakyat terjerat maka tak ada lagi kompromi, tak bisa bedakan mana pemakai, bandar maupun kurir, semua dipukul rata dan ujung-ujungnya transaksional,” ungkap Iskandar dalam keterangan tertulisnya, Selasa (1/7/2025).

Iskandar menyebut penanganan peredaran narkoba di Indonesia dapat ditekan bila aparat penegak hukum bersikap objektif dalam penegakan hukumnya. “Jadi penegak hukumnya dulu harus bersih. Jadi tak mungkin membersihkan sesuatu dengan sapu yang kotor,” jelasnya.

Dia pun berharap era pemerintahan Prabowo Subianto dapat memberi perhatian serius atas peredaran gelap narkoba di tanah air.

“Siapa yang layak menangani?, ya aparat hukum yang benar-benar bersih hati nuraninya, bukan sebaliknya memanfaatkan kasus-kasus ini,” katanya.

Iskandar mengatakan, banyak generasi muda yang terjebak dalam penyalahgunaan narkoba. Pasalnya, saat ini peredarannya sudah masif. Bukan hanya dilakukan oleh masyarakat biasa. Namun ia juga menduga ada narkoba yang dikendalikan oleh oknum penegak hukum.

“Kasus yang menyeret Irjen Pol Tedy Minahasa merupakan salah satu contoh bahwa peredaran narkoba di lingkungan penegak hukum itu nyata. Dan kami menduga masih banyak oknum selain Tedy yang melakukan hal serupa,” ucap Iskandar.

Baca Juga:  DPR: Usut Tuntas Kasus Narkoba Diduga Libatkan Petinggi Polri

“Jadi persoalan narkoba di tanah air ini sudah dalam titik yang memprihatinkan, narkoba masuk berton-ton ke negara kita, setiap hari bandar ditangkapi di acara-acara polisi, tapi peredarannya tetap masif,” tambahnya.

Lebih lanjut, jika narkoba masuk dalam jumlah kilo gram, dimungkinkan itu ada bandar yang menyusup. Akan tetapi, kata Iskandar, jika dalam jumlah ton, diduga ada sistem yang mengendalikan.

Untuk itu, pihaknya berharap Presiden segera melakukan penyegaran di tubuh Polri, di antaranya segera mencopot Kapolri dan menggantikannya dengan sosok yang berintegritas dan berani. Sehingga diharapkan dapat menyelesaikan sengkarut peredaran narkoba yang kian menggila.

Iskandar juga menyebutkan, HUT ke 79 Polri hanya menunjukkan acara seremonial belaka. Sementara, publik saat ini tidak membutuhkan retorika dan pencitraan sebuah institusi.

Dia menambahkan, bahwa saat ini masyarakat sudah cerdas, perkembangan media sosial terkait dengan wajah Polri sangat masif.

Jadi, kata dia, publik jangan lagi disuguhkan dengan pencitraan, tapi bagaimana HUT Bhayangkara ini jadi momentum untuk mengevaluasi diri.

Dia juga meninta agar Polri bisa belajar dari TNI. Di mana selama 32 tahun dengan segala dinamikanya dan Dwifungsi ABRI-nya, namun pasca reformasi TNI langsung berbenah.

“Sebaliknya, Polri sibuk merias diri dengan segala bentuk pencitraannya di media tapi tak berbanding lurus dengan kinerjanya. Coba saja banyangkan komposisi pemberitaan Polri dengan institusi lainnya sangat jomplang,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang
Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil
PMPRI Desak Kejagung Ambil Alih Kasus Dugaan Korupsi Alkes APD di Kejati Sumut
Penjaga Rumah Mantan Jampidsus Ditemukan Tewas Mengenaskan Mulut dan Hidung Berbusa
Buka Peluang Kerja Gen Z, Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Desak Pemprov Gandeng Duta Besar
Fenomena Kepala Daerah Andalkan Medsos Jadi Sarana Pencitraan: Menara Pasir Popularitas Pemimpin Populis
PDAB Tirtatama DIY Raih Pemred Award 2026 atas Komitmen Hadirkan Layanan Air Bersih Berkualitas
Menteri Transmigrasi Beri Pesan Khusus untuk Azka: “Zero Poverty, Belajarlah dengan Rendah Hati di Amsterdam”

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:37 WIB

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:30 WIB

Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil

Senin, 27 Juli 2026 - 17:32 WIB

PMPRI Desak Kejagung Ambil Alih Kasus Dugaan Korupsi Alkes APD di Kejati Sumut

Senin, 27 Juli 2026 - 14:42 WIB

Penjaga Rumah Mantan Jampidsus Ditemukan Tewas Mengenaskan Mulut dan Hidung Berbusa

Senin, 27 Juli 2026 - 10:42 WIB

Buka Peluang Kerja Gen Z, Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Desak Pemprov Gandeng Duta Besar

Berita Terbaru

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus.

Ekonomi & Bisnis

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

Selasa, 28 Jul 2026 - 21:37 WIB

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Nasional

Pakar Komunikasi Inii Ungkap Bahayanya Narsisisme Birokrasi

Selasa, 28 Jul 2026 - 12:13 WIB