PLTN Bukan Soal Teknologi, Rektor ITPLN Soroti Minimnya SDM Ahli Nuklir

- Editor

Selasa, 20 Januari 2026 - 17:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Forum Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia yang digelar Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. (Foto: Ist)

Forum Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia yang digelar Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Wacana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia kembali menguat seiring dorongan transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Namun di balik kesiapan teknologi, Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar: keterbatasan sumber daya manusia (SDM) ahli nuklir.

Isu tersebut mengemuka dalam Japan–US Training Program on Responsible Use of Small Modular Reactor (SMR) Technology for Indonesia yang digelar Pemerintah Jepang dan Amerika Serikat di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo.

Rektor Institut Teknologi PLN (ITPLN), Prof. Iwa Garniwa, menegaskan bahwa tantangan terbesar pengembangan PLTN bukan pada penguasaan teknologi, melainkan kesiapan tenaga ahli dengan kompetensi khusus nuklir.

“Untuk satu unit PLTN saja dibutuhkan sedikitnya 1.200 SDM berkompetensi spesifik. Jika Indonesia membangun tiga hingga empat unit PLTN hingga 2045, kebutuhan tenaga ahli nuklir akan meningkat menjadi ribuan orang,” ujar Prof. Iwa, Selasa (20/1/2026).

Ia menilai, tanpa peta jalan pengembangan SDM yang jelas dan terintegrasi, target pengoperasian PLTN berpotensi sulit tercapai. Pasalnya, proyek nuklir merupakan investasi jangka panjang yang memerlukan persiapan matang sejak tahap awal.

Berdasarkan pengalaman internasional, seluruh proses pembangunan PLTN—mulai dari perencanaan, studi kelayakan, hingga operasi—dapat memakan waktu hingga 12 tahun. Bahkan, studi kelayakan saja membutuhkan waktu minimal dua tahun untuk memastikan keamanan lokasi dalam jangka panjang.

“Studi kelayakan harus menjamin keselamatan wilayah setidaknya hingga 100 tahun ke depan. Jika target operasi ditetapkan pada 2032, maka pertanyaan mendasarnya adalah siapa yang akan mengoperasikan fasilitas tersebut,” tegasnya.

Baca Juga:  Peringati Hari Kartini, Kemendukbangga/BKKBN Pecahkan Rekor MURI Lewat Pelayanan KB Vasektomi Serentak Se-Indonesia

Untuk menjawab tantangan tersebut, ITPLN menyiapkan sistem pendidikan nuklir berjenjang. Pada tingkat sarjana (S1), mahasiswa dibekali dasar ilmu nuklir, material, dan termohidrolika. Program magister (S2) difokuskan pada analisis keselamatan dan simulasi reaktor, sementara program doktoral (S3) diarahkan pada riset lanjutan, termasuk pengembangan small modular reactor (SMR) dan kebijakan energi.

Selain jalur akademik, ITPLN juga membuka pelatihan profesional bersertifikasi internasional. Calon operator PLTN diwajibkan mengikuti pelatihan intensif selama enam hingga 12 bulan sebelum memperoleh lisensi. Sementara itu, insinyur keselamatan dipersiapkan dengan keahlian radioproteksi dan analisis keselamatan reaktor, serta calon regulator difokuskan pada audit dan pengawasan kepatuhan.

Prof. Iwa menambahkan, kebutuhan SDM nuklir juga mencakup bidang radioactive engineering and management, mengingat isu nuklir selalu menjadi perhatian publik dan komunitas internasional.

“Indonesia membutuhkan banyak ahli nuklir. Di sisi lain, penerimaan publik terhadap PLTN juga harus dibangun melalui edukasi yang tepat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Program pelatihan ini dihadiri perwakilan pemerintah Jepang, Amerika Serikat, dan Indonesia. Diskusi menyoroti posisi energi nuklir dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2024–2060, serta potensi SMR sebagai sumber energi rendah karbon untuk memperkuat ketahanan energi nasional dengan standar keselamatan dan tata kelola yang ketat.

Sebagai perguruan tinggi yang fokus pada transisi energi, ITPLN menyatakan kesiapan mengambil peran strategis dalam penyusunan peta edukasi nuklir nasional. Ke depan, ITPLN akan berkolaborasi dengan Japan Atomic Energy Commission (JAEC) dan Tokyo University untuk mempercepat penyiapan SDM nuklir Indonesia. (hab)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Terobosan Baru! FIA UI–BEI Bangun Ekosistem Investasi di Kampus
Dari Kampus ke Tapal Batas: Rachma Fitriati Inisiatori Lumbung Pangan 3T Morotai Nominator DPD RI Award 2026, Senator Hasby Yusuf Apresiasi
Lima Wartawan Hilang Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau, Forum Pimred Harap Pencarian Terus Dilakukan
Angkatan XII Dibuka, Aero Astra Akademia Perkuat Pendidikan Vokasi Siap Kerja
Lulusan Aero Astra Akademia Raih Penghargaan Usai Selamatkan Anak Tamu di Mercure Karawang
Maraknya Hoaks dan Kebocoran Data, Dosen UNJ Kembangkan E-Modul “Etika Informasi” Untuk Perkuat Literasi Digital  
Perkuat Literasi di Kepulauan Seribu, Tim Dosen UNJ Gandeng Karang Taruna Menjadi Agen Literasi
Tingkatkan Mutu Perpustakaan Sekolah, FIP UNJ dan Disarpusda Kota Bekasi Gelar PkM untuk Pengelola Perpustakaan SD dan SMP

Berita Terkait

Minggu, 20 September 2026 - 09:33 WIB

Terobosan Baru! FIA UI–BEI Bangun Ekosistem Investasi di Kampus

Sabtu, 12 September 2026 - 15:50 WIB

Dari Kampus ke Tapal Batas: Rachma Fitriati Inisiatori Lumbung Pangan 3T Morotai Nominator DPD RI Award 2026, Senator Hasby Yusuf Apresiasi

Kamis, 10 September 2026 - 16:52 WIB

Lima Wartawan Hilang Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau, Forum Pimred Harap Pencarian Terus Dilakukan

Rabu, 9 September 2026 - 10:15 WIB

Angkatan XII Dibuka, Aero Astra Akademia Perkuat Pendidikan Vokasi Siap Kerja

Minggu, 6 September 2026 - 11:59 WIB

Lulusan Aero Astra Akademia Raih Penghargaan Usai Selamatkan Anak Tamu di Mercure Karawang

Berita Terbaru

Departemen

Terobosan Baru! FIA UI–BEI Bangun Ekosistem Investasi di Kampus

Minggu, 20 Sep 2026 - 09:33 WIB