Dua Ekonom Ini Nilai Kondisi Perekonomian Indonesia Masih “Terjajah”

- Editor

Minggu, 10 Agustus 2025 - 13:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua narasumber dalam diskusi terbuka di Depok pada Sabtu, 9 Agustus 2025, di Cafe Tatap Moeka, Margonda, Depok, Jawa Barat.

Dua narasumber dalam diskusi terbuka di Depok pada Sabtu, 9 Agustus 2025, di Cafe Tatap Moeka, Margonda, Depok, Jawa Barat.

JAKARTA, Mediakarya – Dua ekonom Pancasilais, Prof. Yudhie Haryono dan Dr. Agus Rizal, menyoroti kondisi perekonomian Indonesia yang dinilai masih “terjajah”. Hal tersebut terungkap dalam diskusi terbuka di Depok pada Sabtu, (9/8/2025).

Berbasis perspektif ekonomi dan politik, mereka menggambarkan situasi mutakhir ekonomi bangsa yang bukan hanya stagnan, melainkan masih berada dalam cengkeraman ketergantungan struktural terhadap entitas global.

Direktur Eksekutif Nusantara Centre, Prof. Yudhie Haryono, menilai meski Indonesia telah merdeka sejak 1945, namun secara ekonomi bangsa ini belum sepenuhnya melepaskan belenggu kolonialisme dan ketergantungan khususnya pada ekspor bahan mentah dan dominasi modal asing.

Hal ini tercermin dari beberapa hal. Seperti dominasi investor serta pasar global yang mengatur harga dan suplai. Kemudian rendahnya pengolahan komoditas dalam negeri. Sehingga nilai tambah lemah. Dilema struktural ekonomi itu masih bertumpu pada ekstraksi, bukan inovasi.

“Ketergantungan ini tidak hanya menghambat kedaulatan nasional, tapi juga menjadi akar persoalan dalam upaya membangun identitas ekonomi yang mandiri,” ungkap Prof Yudhie.

Pendapat Prof. Yudhie bukan tanpa alasan, dirinya merujuk sejarah ekonomi Indonesia yang panjang, bahkan sebelum reformasi 1998, ketika pertumbuhan tinggi sering kali ditopang oleh praktik korup, perampasan sumber daya alam, atau monopoli komoditas.

“Kondisi ini menciptakan distorsi struktural yang bahkan sulit dihapus, meski dengan pertumbuhan tinggi,” katanya.

Dalam forum tersebut, ekonom muda berbakat dari Universitas M.H. Thamrin, Dr. Agus Rizal juga mengupas akar-akar liberalisme.

Baca Juga:  Pakar Ingatkan Agar Dominasi Politik tidak Menundukkan Riset

Dengan pendekatan riset akademik dan catatan historis, Dr. Agus membahas root cause dari ideologi liberalisme, di mana ketimpangan dan ketergantungan telah menjadi bagian sistemik dari ideologi ini.

“Perekonomian kita yang dibentuk oleh skema eksploitasi baik oleh kapital global maupun elit lokal yang dibekingi birokrasi lemah saat ini adalah ejawantah dari ideologi neoliberalisme,” ungkap Agus.

Diskusi ini membangkitkan satu kesadaran penting, bahwa merdeka secara politik saja tidak cukup jika ekonomi masih dikendalikan oleh sistem lama.

“Seperti mengekspor potensi sumber daya alam kita sebagai bahan mentah, memiliki ketergantungan struktural, dan miskin agensi ekonomi yang Pancasilais,” ungkap Agus.

Dirinya juga mengajak bangsa ini harus turun ke akar persoalan, ada kebutuhan serius terhadap rekonstruksi orientasi ekonomi bangsa dari ketergantungan menuju kemandirian.

Misalnya, dari ekspor bahan baku menuju produk bernilai tinggi; dari birokrasi lemah menuju tata kelola transparan, dari neoliberalisme ke Pancasilaisme.

“Di sinilah pentingnya kita memiliki sebuah UU Perekonomian Nasional. Sebuah peta jalan baru yang akan membawa ekonomi Indonesia-bukan ekonomi di Indonesia- ke arah yang sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa,” katanya.

Menurut dia, kemerdekaan bukanlah tujuan, tetap jembatan menuju kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh warga negara Indonesia.

“Ekonomi yang merdeka adalah ekonomi yang dirancang dari dalam untuk tumbuh bersama rakyat seluruhnya. Bukan sebagian, apalagi segelintir orang,” tutupnya. **

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang
Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil
Husein Salim Resmi Jabat Ketum PAW BPN Aptaksindo
Ekonom Senior Ini Dorong Gunernur BI Baru Tak Hanya Laksanakan Tugas Moneter
Buka Peluang Kerja Gen Z, Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Desak Pemprov Gandeng Duta Besar
Gubernur BI Perry Warjiyo Mundur, Diduga Ada Tekanan dari Istana
Fenomena Kepala Daerah Andalkan Medsos Jadi Sarana Pencitraan: Menara Pasir Popularitas Pemimpin Populis
PDAB Tirtatama DIY Raih Pemred Award 2026 atas Komitmen Hadirkan Layanan Air Bersih Berkualitas

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 21:37 WIB

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

Selasa, 28 Juli 2026 - 17:30 WIB

Analis Politik Irwan Suhanto: Kasus Febrie Adriansyah Jangan Dijadikan Alasan Melemahkan Supremasi Sipil

Selasa, 28 Juli 2026 - 08:47 WIB

Husein Salim Resmi Jabat Ketum PAW BPN Aptaksindo

Senin, 27 Juli 2026 - 14:51 WIB

Ekonom Senior Ini Dorong Gunernur BI Baru Tak Hanya Laksanakan Tugas Moneter

Senin, 27 Juli 2026 - 10:42 WIB

Buka Peluang Kerja Gen Z, Korps Alumni KNPI Jakarta Timur Desak Pemprov Gandeng Duta Besar

Berita Terbaru

Sekretaris Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW), Iskandar Sitorus.

Ekonomi & Bisnis

Membongkar Kebohongan Jokowi dalam Kasus Rempang-Galang

Selasa, 28 Jul 2026 - 21:37 WIB

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Nasional

Pakar Komunikasi Inii Ungkap Bahayanya Narsisisme Birokrasi

Selasa, 28 Jul 2026 - 12:13 WIB