Harga Kedelai terus Merangkak Naik, Ini Harapan Gapkoptindo Pada Pemerintahan Mendatang

- Penulis

Jumat, 17 November 2023 - 15:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kedelai Impor (Foto: Ist)

Kedelai Impor (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya 16m beberapa bulan belakangan ini harga kedelai terus merangkak naik. Hal itu dipicu karena pasokan kedelai dari negara pengimpor seperti Amerika Serikat dan Brazil mengalami penurunan.

Ketua Gabungan Koperasi Pengrajin Tahu dan Tempe Indonesia (Gapkoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan, salah satu penyebab kenaikan harga kedelai nasional karena pertanian kedelai di Amerika Serikat (AS) dan Brasil sendiri masih belum memasuki masa panen, sehingga pasokan berkurang, akibatnya harganya kedelai dalam negeri naik.

Padahal, kata Aip, para pengrajin tahu tempe di Indonesia masih bergantung kepada kedelai impor. Sementara, kebutuhan kedelai dalam negeri dalam satu tahun diperkirakan mencapai 3 juta ton.

“Dari 3 juta ton itu, kedelai lokal hanya mampu memproduksi 10 persen atau 300 ribu ton. Dan selebihnya yang 2,7 juta ton per tahunnya itu, kita masih bergantung pada kedelai impor. Maka harga kedelai nasional mau tidak mau harus mengikuti pasar dunia,” jelas Aip kepada wartawan di Jakarta Selatan, (16/11/2023).

Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan adanya el nino yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia juga merupakan faktor penyumbang kenaikan harga kedelai nasional.

Dengan naiknya harga kedelai global, lanjut dia, saat ini di beberapa provinsi di Indonesia seperti NTB, Aceh, Surabaya, Palembang harga beli kedelai sudah merangkak tembus di angka Rp 12.800 per kg, padahal harga minggu sebelumnya hanya Rp 11.000.

Sementara, Harga Acuan Pembelian/Penjualan (HAP) kedelai yang telah ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp 10.775 per kg untuk harga acuan pembelian kedelai lokal di produsen serta Rp 11.400 per kg (kedelai lokal) dan Rp 12.000 per kg (kedelai impor) untuk harga acuan penjualan di konsumen.

Baca Juga:  Tarif PAM Jaya Melonjak, CBA: Ada Potensi Dugaan Korupsi

“Kami memprediksi harga kedelai impor akan terus mengalami kenaikan. Karena kedelai itu bukan hanya untuk bahan baku makanan tahu tempe saja. Akan tetapi juga untuk bic oil.  Terus kedelai yang great tiga dan empat itu dijadikan bahan baku makanan babi. Makanya Cina mengimpor kedelai untuk satu tahun itu hampir seratus juta ton per tahun,” kata Aip.

Namun demikian, Aip mengakui bahwa kebijakan impor kedelai dalam negeri selama hampir 20 tahun ini dinilai sudah cukup bagus. Sebab, di saat harga kedelai melambung maupun dalam kondisi normal, termasuk ketersediaan kedelai masih cukup terjaga.

Namun Aip menilai jika dikaitkan dengan undang-undang, kebijakan importasi kedelai dinilai masih keliru. Padahal undang-undang Tentang Pangan Nomor 18 Tahun 2018, mengamanatkan bahwa pangan strategis di antaranya kedelai itu harus dikuasai negara.

“Misalnya, seorang pengusaha akan melakukan impor kedelai tidak bisa langsung, melainkan harus ada izin dari pemerintah, supaya kuota maupun harganya dapat terkendali. Tapi faktanya aturan itu tidak terlaksana, bahkan siapapun bisa mengimpor. Karena diduga banyak kepentingan yang bermain,” ungkap Aip.

Untuk itu, Gapkoptindo sangat mendukung jika pemerintahan yang baru ke depan dapat merealisasikan UU Tentang Pangan Nomor 18 Tahun 2018. “Jika itu terjadi maka tidak ada lagi monopoli dalam importasi kedelai,” harapnya. (Sls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Menaker Nilai BLK Kini Tak Sekadar Tempat Pelatihan, tapi Juga Inkubator Bisnis
Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Indonesia Harus Manfaatkan Momentum Kendaraan Listrik
Pelaku Usaha Industri Perberasan Berdarah-darah, Siapa Yang Untung?
Berkelit dari Kerugian dengan Beras Khusus
BPKN RI Dukung Penuh Perpres Perlindungan Pekerja Ojol
IAW: Ada Persaingan Tak Sehat antara Microsoft dan Google dalam Kasus Chromebook
Bukan Sekadar Korupsi, IAW Sebut Proyek Chromebook Sebagai ‘Kejahatan Pasar’ yang Terstruktur
Sampai Kapan Pelaku Usaha Industri Perberasan Mampu Bertahan Terus Merugi
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 05:56 WIB

Menaker Nilai BLK Kini Tak Sekadar Tempat Pelatihan, tapi Juga Inkubator Bisnis

Sabtu, 9 Mei 2026 - 07:58 WIB

Perkuat Ketahanan Energi Nasional, Indonesia Harus Manfaatkan Momentum Kendaraan Listrik

Jumat, 8 Mei 2026 - 08:01 WIB

Pelaku Usaha Industri Perberasan Berdarah-darah, Siapa Yang Untung?

Kamis, 7 Mei 2026 - 09:30 WIB

Berkelit dari Kerugian dengan Beras Khusus

Rabu, 6 Mei 2026 - 22:02 WIB

BPKN RI Dukung Penuh Perpres Perlindungan Pekerja Ojol

Berita Terbaru

Sekjen AMPG Muhammad Ikhsan Nurjamil. (Foto: dok.Mediakarya)

Headline

Copot Sekjen Secara Sepihak, PP AMPG Diambang Perpecahan

Senin, 11 Mei 2026 - 09:25 WIB

Aktivitas di Masjidil Haram Tanah Suci Mekkah. (Foto: dok Harnasnews)

Headline

Doa dan Dzikir Terbaik Jamaah Haji saat di Arafah

Minggu, 10 Mei 2026 - 23:10 WIB