Hari Pers Sedunia, LPKAN Minta Pemerintah Hapus Kesenjangan Media

- Penulis

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ketua Umum DPP Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara, R Mohammad Ali Zaini, Minggu (03/25/26)

ketua Umum DPP Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara, R Mohammad Ali Zaini, Minggu (03/25/26)

JAKARTA, Mediakarya – Memperingati hari Pers Sedunia, khususnya di Indonesia, menjadi alarm bagi kebebasan berpendapat baik melalui media sosial maupun media lainnya. Pasalnya, Uji Kompetensi Wartawan (UKW) oleh Dewan Pers menjadi tembok kebebasan menulis atau berpendapat melalui media.

“Hari ini kita dihadapkan pada paradoks. Di satu sisi, era digital melahirkan ribuan media online di pelosok. Dikelola anak muda desa, aktivis kampus, bahkan korban ketidakadilan yang memilih jadi wartawan. Mereka inilah yang pertama kali melaporkan jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki, pungli di sekolah negeri, hingga dugaan korupsi dana desa. Niatnya satu, yaitu menyuarakan keadilan,” ujar ketua Umum DPP Lembaga Pengawas Kinerja Aparatur Negara, R Mohammad Ali Zaini, Minggu (03/25/26)

Di sisi lain, kata R Mohammad, semangat itu terbentur tembok bernama Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Tanpa selembar sertifikat, kerja jurnalistik mereka sering dianggap ilegal, Narasumber enggan diwawancara.

Bahkan undangan liputan tidak pernah diterima, lalu anggaran kerjasama media dari pemerintah menutup pintu,

“Yang lebih parah, ada yang dikriminalisasi dengan dalih “bukan pers resmi”,” katanya.

Lebih lanjut, ia mengungkap bahwa UKW itu penting, tapi bukan satu-satunya takaran kebenaran. UKW lahir untuk menjaga standar, agar wartawan paham kode etik, teknik verifikasi, dan hukum pers.

“Itu harus kita dukung. Tapi ketika UKW berubah jadi alat monopoli, ia membunuh nadi demokrasi. Faktanya, banyak skandal besar di daerah justru dibongkar media kecil yang wartawannya belum sempat UKW. Menolak berita mereka karena alasan administratif sama dengan memberi izin bagi koruptor untuk bekerja tanpa pengawasan,” tegasnya.

Indonesia terlalu luas untuk hanya dijaga media arus utama Jakarta. APBN Rp3.000 triliun dan dana desa Rp70 triliun mengalir sampai ke kelurahan. Siapa yang mengawasi jika bukan pers lokal? Mematikan lampu-lampu kecil di daerah hanya karena “belum SNI” sama dengan membiarkan kejahatan anggaran berpesta dalam gelap.

Baca Juga:  Hadir di Kota Bekasi, Anies Baswedan Harap para Caleg Agar Dukung UMKM

“Namun di Hari Pers ini kita juga harus jujur ke dalam, menjadi insan pers adalah pekerjaan mulia. Tapi kemuliaan itu runtuh seketika jika profesi ini diselewengkan,” katanya.

Wartawan bukan preman, Kartu pers bukan alat untuk menakut-nakuti kepala desa, mengintimidasi guru, atau memeras pengusaha. Praktik “amplop” dan “wartawan bodrex” adalah pengkhianatan terhadap khitah jurnalistik. Ia merusak marwah seluruh insan pers yang bekerja jujur. Dewan Pers dan organisasi profesi harus lebih galak menindak ini.

Lalu apa jalan tengahnya?

R Mohammad Ali juga meminta kepada Dewan Pers, untum memongkar eksklusivitas UKW. Buka kelasnya murah, rutin, sampai ke kabupaten.

“Buat jalur rekognisi bagi jurnalis warga yang karyanya terbukti taat Kode Etik, meski belum ikut ujian formal. Standar boleh tinggi, tapi pintu harus lebar,” kata dia.

Ia juga meminta kepada pemerintah untuk tidak selalu menutup diri kepada wartawan dan siap menerima semua kritikan, karena APBD adalah uang rakyat.

“Maka wajib hukumnya transparan dan mengajak media mengawasi. Hentikan diskriminasi anggaran kerjasama hanya untuk “media yang sudah UKW,” katanya.

Menurutnya, ukuran seorang wartawan adalah ketaatannya kepada Kode Etik Jurnalistim dan mempunyai dampak pada berita yang disajikan.

UKW sebagai ikhtiar profesionalisme seorang jurnalis namun, jangan menunggu sertifikasi untuk berani bersuara. Yang terpenting, kata dia adalah menulis berdasarkan fakta dan data serta memegang kode etik.

Hari Pers Sedunia mengingatkan pers yang hebat bukan yang semua wartawannya bersertifikat, Tapi yang beritanya bisa membuat pejabat korup, pemeras, dan penjahat kerah putih tidak bisa tidur nyenyak.

“Kemerdekaan pers tidak lahir dari hadiah, Ia direbut setiap hari oleh mereka yang memilih waras di tengah zaman yang gaduh,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Gelar Workshop, PTOI DKI Jakarta Dongkrak Kualitas Terapis Olahraga
Hanya Dinikmati Segelintir Pejabat, IAW Ungkap Potret Buram Pengelolaan Migas Kota Bekasi
Tepis Sentimen Negatif Kelompok Wahabi dan Salafi, Iran Tunjukan Ketangguhan Sebagai Negara Peradaban
Eks Kacab Bank Pembobol Rekening Nasabah Divonis Penjara, Pakar Audit: Hati-Hati Kelola Uang
Menuju Indonesia Emas, Ribuan Siswa Aceh Utara Nikmati Program MBG
Digitalisasi Polri Melangkah Menuju Kepolisian Global
Koalisi Masyarakat Sipil Sebut Pemaksaan Kesaksian Andri Yunus adalah Bentuk Ancaman
Hari Buruh 2026: LPKAN Desak Pemerintah Prioritaskan Kesejahteraan Guru dan Tenaga Kesehatan
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 18:13 WIB

Hari Pers Sedunia, LPKAN Minta Pemerintah Hapus Kesenjangan Media

Minggu, 3 Mei 2026 - 16:20 WIB

Gelar Workshop, PTOI DKI Jakarta Dongkrak Kualitas Terapis Olahraga

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:33 WIB

Hanya Dinikmati Segelintir Pejabat, IAW Ungkap Potret Buram Pengelolaan Migas Kota Bekasi

Minggu, 3 Mei 2026 - 07:19 WIB

Tepis Sentimen Negatif Kelompok Wahabi dan Salafi, Iran Tunjukan Ketangguhan Sebagai Negara Peradaban

Minggu, 3 Mei 2026 - 06:31 WIB

Menuju Indonesia Emas, Ribuan Siswa Aceh Utara Nikmati Program MBG

Berita Terbaru