Ketua Prabu Foundation: Jangan Biarkan Kelompok Ekstrem Tumbuh Subur di Tengah Masyarakat

- Editor

Selasa, 19 November 2024 - 10:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Parasanda Bumi Pertiwi (Prabu) Foundation, organisasi yang menaungi mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII), H.Asep Muhargono.

Ketua Parasanda Bumi Pertiwi (Prabu) Foundation, organisasi yang menaungi mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII), H.Asep Muhargono.

JAKARTA, Mediakarya – Meski upaya aparat penegak hukum dalam mempersempit ruang gerak kelompok gerakan radikal, namun ancaman kelompok yang memiliki faham atau aliran tertentu yang berusaha melakukan perubahan dan pembaharuan dengan menempuh cara-cara kekerasan ekstrem dinilai masih mengancam kehidupan masyarakat.

Terkait dengan maslaah tersebut, Ketua Parasanda Bumi Pertiwi (Prabu) Foundation, organisasi yang menaungi mantan aktivis Negara Islam Indonesia (NII), H.Asep Muhargono mengungkapkan, sebesar apapun dana yang digelontorkan untuk menangkal gerakan radikal di Indonesia dinilai tidak akan efektif jika pemangku kebijakan dalam permasalahan gerakan ekstrem itu tidak melibatkan komponen masyarakat.

“Sebenarnya kelompok ekstrem merupakan persoalan faham ideologi yang salah. Untuk meluruskannya, maka BNPT maupun Densus 88 melibatkan mantan aktivis dan pelaku sejarah yang pernah terlibat dalam faham tersebut. Sebab (mantan aktivis NII) pernah memiliki benang merah dalam gerakan tersebut, bukan hanya faham kulitnya saja, sebagaimana yang selama ini diungkapkan oleh kelompok yang mengaku-ngaku pernah menjadi anggota NII,” ujar Asep dalam keterangan tertulisnya kepada Mediakarya, Selasa (19/11/2024).

Menurut dia, kelompok gerakan radikal bukan hanya melakukan kekerasan itu antara lain menghalalkan segala cara di dalam mencapai tujuannya, termasuk melakukan tindakan pengeboman, penculikan, perampokan, dan tindakan kriminal lainnya, namun mereka juga memberikan doktrin yang membahayakan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara

“Memasukan doktrin yang menyimpang itu menurut kami lebih berbahaya. Sedangkan aksi teror maupun tindakan kriminal lainnya itu hanya merupakan ekses dari pemahaman doktrin yang salah,” katanya.

Kelompok Radikal juga berusaha untuk mengganti tatanan nilai yang ada di dalam masyarakat sesuai dengan ideologi yang dianutnya. Simbol perjuangan yang mereka usung ialah jihad untuk melawan kekafiran.

Baca Juga:  Teguh Gantikan Heru, Menteri Tito Ungkap Alasannya

Radikal dan radikalisme, dua istilah yang akhir-akhir ini sering kali dikaitkan dengan aksi-aksi kekerasan yang dikonotasikan dengan kekerasan berbasis agama termasuk aksi terorisme.

Istilah radikal dan radikalisme berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”. berarti akar, sumber, atau asal mula radikal sama dengan menyeluruh, besar-besaran, keras, kokoh, dan tajam.

Menurut Asep, biasanya pola kerja kelompok ini menyasar pada komunitas masyarakat yang merasa tertindas, kemudian masuk pada generasi muda yang tengah mencari jati diri sehingga sangat mudah dalam menerima doktrin dari kelompok masyarakat yang kerap membawa jargon perubahan.

Lebuh lanjut, Asep menjelaskan bahwa kelompok radikal ini biasanya menyusup kepada masyarakat yang merasa tertindas, kemudian menyasar pada generasi milenial yang tengah menuntut adanya ketidakadilan, baik dalam dalam konteks ekonomi dan politik.

“Sehingga kelompok itu masuk dan mempengaruhi faham-faham yang dinilai dapat menggugah semangatnya untuk membongkar adanya ketidakadilan di tengah masyarakat melalui doktrin keagamaan dan ayat-ayat jihad,” kata Asep.

Asep menilai pola dan mata rantai gerakan radikal ini masih tumbuh subur di tengah masyarakat. “Jika hal ini tidak segera diantisipasi, dikhawatirkan akan tumbuh subur sel-sel regenerasi gerakan radikal baru yang dikhawatirkan dapat mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” katanya.

Oleh karena itu, kata Asep, Prabu Foundation siap bersinergi dengan BNPT maupun Densus 88 dalam menangkal gerakan radikal tersebut.

“Terlebih apabila pemerintahan baru ini kondisi ekonomi dan politik belum relatif stabil, khawatir ada kelompok-kelompok yang memainkan isu politik dengan menggunakan cara-cara tak beradab. Kemudian kelompok ekstrem masuk dan memanfaatkan kondisi negara yang belum stabil tersebut,” pungkas Asep. **

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026
IPPS Indonesia: Penutupan TPST Bantargebang, Kenapa Berlarut-Larut?
Komjen Pol (Purn) Oegroseno Telah Beri Teladan: Datang, Jelaskan Fakta, dan Percaya pada Kebenaran
Usia 14 Tahun, IWO Mengisi Kegiatan Dengan Tanam Ribuan Mangrove
TCL Menjadi Bagian Narasi Spanyol Angkat Trofi Piala Dunia
Pelaksanaan Munas III KBI Ricuh, Panitia Penyelenggara Terancam Dipolisikan
Miliki Basis Massa Akar Rumput, Partai Gerakan Rakyat Kini tak Lagi Dipandang Sebelah Mata
IAW Sebut Konflik Pulau Rempang Bukti Kegagalan Rezim Jokowi dalam Tata Kelola Agraria

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:12 WIB

Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 17:34 WIB

IPPS Indonesia: Penutupan TPST Bantargebang, Kenapa Berlarut-Larut?

Jumat, 31 Juli 2026 - 21:05 WIB

Usia 14 Tahun, IWO Mengisi Kegiatan Dengan Tanam Ribuan Mangrove

Jumat, 31 Juli 2026 - 14:22 WIB

TCL Menjadi Bagian Narasi Spanyol Angkat Trofi Piala Dunia

Jumat, 31 Juli 2026 - 08:00 WIB

Pelaksanaan Munas III KBI Ricuh, Panitia Penyelenggara Terancam Dipolisikan

Berita Terbaru

Kantor Kejaksaan Agung (Ist)

Opini

Di Balik Jatuhnya Sang Jaksa dan Berkas yang Membeku

Minggu, 2 Agu 2026 - 12:43 WIB

Ratusan massa saat membakar sebuah gedung saat aksi kerusuhan di Agustus 2025 (Foto: Ist)

Headline

Akankah Peristiwa Agustus Kelam 2025 Bakal Terulang di 2026

Minggu, 2 Agu 2026 - 10:12 WIB