Marak Sebaran Wabah PMK pada Sapi, PPSDS Desak Kementan Ambil Langkah Strategis

- Editor

Selasa, 14 Januari 2025 - 11:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SURABAYA, Mediakarya – Pemerintahan melalui kementerian atau instansi terkait diminta untuk menyatakan kejadian luar biasa (KLB) terkait maraknya sebaran wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi.

Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur, Muthowif menilai bahwa sudah waktunya pemerintah menyatakan bahwa wabah PMK itu sudah merupakan KLB. Pasalnya wabah PMK pada sapi sudah hampir semua kota/Kabupaten yang ada di Jawa Timur.

Untuk menghindari penyebaran PMK lebih banyak lagi, mengingat Jawa Timur sebagai penghasil ternak terbanyak dan mensuplay kebutuhan sapi nasional. PPSDS mendesak kementerian dan instansi terkait harus lebih serius dalam menangani hewan yang terdampak atau hewan yang terinfeksi PMK.

“Hal itu dilakukan guna mengindari kerugian lebih besar para peternak tradisional dalam menghadapi idul Fitri. Karena PMK yang sekarang lebih dahsyat bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” kata Muthowif dalam keterangannya kepada Mediakarya, Selasa (14/1/2025).

Baca Juga:  Inilah Tanggapan IPW atas Vonis Hukuman Seumur Hidup Terhadap Irjen Teddy Minahasa

Untuk itu kata Muthowif, Kementan harus segera mengambil langkah-langkah strategis dalam mengurangi sebaran PMK, melalui pemberian vaksinasi yang berkualitas pada setiap sapi secara gratis dan vaksin yang sesuai dengan kondisi sapi di Indonesia, bukan asal vaksin PMK diberikan ke sapi milik peternak tradisional.

Selain itu, Kementan harus berani mengurangi pergerakan sapi baik antar kota/kabupaten bahkan antar provinsi, jika pemerintah tetap menyuplai kebutuhan nasional, maka harus memberlakukan syarat Surat Keterangan Sehat (SKS) pada setiap sapi yang keluar dari kandang dibawa ke provinsi lain.

“Sebab jika kondisi seperti sekarang dibiarkan, saya kawatir para peternak rakyat tradisional tidak mau memelihara sapi lagi. Karena resiko PMK yang menjadi penyebab kematian sapi di mana-mana,” jelas Muthowif.**

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Usung Tema “Bersatu, Berkarya, Membangun Negeri” Munas III PERJASI dan APTAKSINDO 2026 Siap Digelar 
Menemukan Ekonomi Patriotik Pembela Rakyat
AI Smart Glasses Makin Diminati di Indonesia, Denka Pratama Dorong Adopsi Aman Lewat Sertifikasi dan Edukasi
Yonyou Network Indonesia Bagikan Strategi Lokalisasi ERP di DTI Series 2026
HIKSEMI Tawarkan Storage AI Berkecepatan 13.000 MB/s untuk Data Center dan Enterprise
Kartu Merah untuk Korps Adhiyaksa, IPPS Indonesia: Saatnya Kajagung Bersih-bersih Total
Ajukan Praperadilan, Febrie Adriansyah Dituding Tengah Berupaya Lepas dari Jerat Hukum
Komisi III DPR Kebut RUU Perampasan Aset, Koruptor Mulai Ketar-Ketir

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 05:54 WIB

Usung Tema “Bersatu, Berkarya, Membangun Negeri” Munas III PERJASI dan APTAKSINDO 2026 Siap Digelar 

Jumat, 7 Agustus 2026 - 05:39 WIB

Menemukan Ekonomi Patriotik Pembela Rakyat

Kamis, 6 Agustus 2026 - 19:31 WIB

AI Smart Glasses Makin Diminati di Indonesia, Denka Pratama Dorong Adopsi Aman Lewat Sertifikasi dan Edukasi

Kamis, 6 Agustus 2026 - 14:22 WIB

Yonyou Network Indonesia Bagikan Strategi Lokalisasi ERP di DTI Series 2026

Kamis, 6 Agustus 2026 - 13:35 WIB

HIKSEMI Tawarkan Storage AI Berkecepatan 13.000 MB/s untuk Data Center dan Enterprise

Berita Terbaru

Peluncuran buku Soemitro Djojohadikusumo Anti Penjajahan: Pergolakan Pemikiran Ekonomi Politik

Ekonomi & Bisnis

Menemukan Ekonomi Patriotik Pembela Rakyat

Jumat, 7 Agu 2026 - 05:39 WIB