Soal Panama Papers, Pendukung Jokowi Pernah Serang Prabowo Pada Pilpres 2019 Gunakan Data OCCRP

- Penulis

Sabtu, 18 Januari 2025 - 12:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur eksekutif Center of Budget Analisis (CBA) Uchok Sky Khadafi

Direktur eksekutif Center of Budget Analisis (CBA) Uchok Sky Khadafi

JAKARTA, Mediakarya – Para pemuja dan pendukung mantan presiden Joko Widodo (Jokowi) sepertinya sudah kehilangan nalarnya terkait pernyataannya agar Presiden Prabowo Subianto melayangkan surat protes ke Belanda.

Hal tersebut menyusul dengan hasil survei Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP) yang merupakan jaringan jurnalis investigasi global dengan staf di enam benua itu menempatkan Joko Widodo sebagai salah satu mantan presiden terkorup di dunia.

Bahkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang diketuai oleh anak bungsu Jokowi itu menyebut OCCRP sebagai organisasi penyebar berita bohong. Karena metodologis, publikasi itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Sementara pada pilpres 2019 lalu, saat pasangan Jokowi-Ma’ruf berhadapan dengan Prabowo-Sandi, pendukung Jokowi menggunakan isu skandal Panama dan Paradise Papers yang menyeret nama Prabowo dan Sandiaga.

“Padahal sebelumnya OCCRP memiliki rekam jejak dalam mengungkap skandal korupsi dunia antara lain Panama Papers, Paradise Papers, dan Pandora Papers. Sementara isu Panama Papers pernah dipakai juga oleh kelompok pendukung Jokowi saat pilpres 2019 untuk menyerang kubu Prabowo,” kata direktur eksekutif Center of Budget Analisis (CBA) Uchok Sky Khadafi kepada Mediakarya, Sabtu (18/1/2025).

Namun saat OCCRP menempatkan Jokowi sebagai salah satu tokoh terkorup di dunia, pendukung Jokowi justru menuding bahwa data yang diperoleh OCCRP itu tidak bisa dipertanggungjawabkan.

“Mungkin lain soal jika OCCRP itu berhasil membongkar kasus yang menimpa lawan politik Jokowi, boleh jadi para pendukungnya mengatakan bahwa OCCRP merupakan organisasi kredibel. Ini artinya kelompok pendukung Jokowi itu memiliki standar ganda,” katanya.

Baca Juga:  Polri Berperan Strategis Mewujudkan Swasembada Jagung Nasional dan Penjaga Keadilan Pangan

Untuk itu, Uchok meminta agar Presiden Prabowo Subianto tidak terkecoh dengan “jebakan Batman” kelompok Jokowi, terlebih lagi melakukan tindakan konyol melayangkan surat protes kepada OCCRP.

“Justru Presiden Prabowo harus mendengar aspirasi publik terkait dengan adanya sejumlah dugaan korupsi yang melibatkan Jokowi dan keluarganya harus diungkap dengan terang-benderang. Jangan sampai ada kesan bahwa Prabowo melindungi Jokowi dan keluarganya karena sebagai politik balas budi lantaran memenangi pilpres,” pungkasnya.

Sebelumnya, pendukung dan simpatisan Jokowi Haidar Alwi meminta Presiden Prabowo Subianto melayangkan nota protes resmi kepada pemerintah Belanda terkait riset Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP). Menurut Alwi, hasil riset OCCRP telah melecehkan Joko Widodo (Jokowi) yang merupakan mantan presiden, kepala negara dan kepala pemerintahan.

“Dengan segala hormat saya memohon kepada Presiden Prabowo Subianto untuk memerintahkan Kementerian Luar Negeri melayangkan nota protes secara resmi kepada pemerintah Belanda terkait riset OCCRP. Hal itu demi menjaga harga diri dan kehormatan bangsa di mata dunia agar tidak mudah dilecehkan oleh siapa pun,” ujar Alwi kepada wartawan, Jumat (17/1/2025).

Menurut Alwi, Jokowi adalah presiden, kepala negara sekaligus kepala pemerintahan yang dipilih langsung oleh mayoritas rakyat Indonesia melalui pemilu yang sah. Karena itu, kata dia, pelecehan terhadap Jokowi adalah pelecehan terhadap negara, pemerintah dan mayoritas rakyat Indonesia.

“Jika sekarang Jokowi, bukan tidak mungkin di masa depan OCCRP atau lembaga lainnya menyasar Presiden Prabowo Subianto,” tandas Alwi.**

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Harga Pertamax Naik 32 Persen, Ketua BPKN RI: Konsumen Berhak Mendapat Transparansi Pemerintah
WTP Kota Bekasi Dipertanyakan Publik, Ini Penjelasan Pakar Komunikasi Politik
Sambut HUT DKI Jakarta ke-499, PLN UID Jakarta Raya Luncurkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen
Polri Geledah Kantor WIKA, Usut Dugaan Korupsi Proyek Modernisasi Pabrik Gula Asembagus 
Penyidik Dalami Kerja Sama Publikasi di Kementan, Beberapa Pegawai Jalani Pemeriksaan
Polri Libatkan Eksternal Dalam Assessment Jenderal
Bea Cukai Ungkap Jutaan Batang Rokok Ilegal, Total Kerugian Negara Rp8,66 Miliar
Anggaran MBG Ratusan Triliun Disorot, Adi Suparto Minta Audit Menyeluruh
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:38 WIB

Harga Pertamax Naik 32 Persen, Ketua BPKN RI: Konsumen Berhak Mendapat Transparansi Pemerintah

Rabu, 10 Juni 2026 - 12:42 WIB

WTP Kota Bekasi Dipertanyakan Publik, Ini Penjelasan Pakar Komunikasi Politik

Rabu, 10 Juni 2026 - 11:34 WIB

Sambut HUT DKI Jakarta ke-499, PLN UID Jakarta Raya Luncurkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen

Selasa, 9 Juni 2026 - 19:29 WIB

Polri Geledah Kantor WIKA, Usut Dugaan Korupsi Proyek Modernisasi Pabrik Gula Asembagus 

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:59 WIB

Polri Libatkan Eksternal Dalam Assessment Jenderal

Berita Terbaru