Mengenal Lebih Dekat Kepala BGN Nanik S Dayeng

- Penulis

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nanik S Dayeng Foto: Ist)

Nanik S Dayeng Foto: Ist)

Wanita Tegar dari Kota Pendekar Madiun: Jejak Wartawati Kini Mengawal Gizi Bangsa

Oleh: Adi Suparto

MADIUN – Nama Nanik Sudaryati Deyang kini menjadi sorotan nasional. Sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru saja dilantik Presiden Prabowo Subianto, ia memegang kendali program strategis Makan Bergizi Gratis, yang menyentuh nyawa dan masa depan jutaan anak Indonesia. Namun, di balik jabatan tinggi dan beban berat itu, tersembunyi kisah panjang perjalanan hidup seorang wanita yang ditempa oleh kerasnya kehidupan, ditempa oleh disiplin pendidikan, dan ditempa oleh tajamnya dunia jurnalistik.

Bagi publik, Nanik dikenal sebagai pebisnis media, penulis tajam, dan pejabat negara. Namun bagi mereka yang paham sejarahnya, Nanik adalah Wanita Pendekar dari Madiun. Sifatnya yang berani, tegas, pantang menyerah, dan selalu memihak rakyat kecil, ternyata telah tertanam kuat sejak ia masih berusia belia, sejak ia melangkahkan kakinya di bangku sekolah di kota yang bangga dengan julukan Kota Pendekar, tanah kelahiran dan pusat berkembangnya seni bela diri serta nilai-nilai keberanian dan kejujuran.

Akar Madiun: Masa Sekolah yqng Menempa Jiwa Pendekar

Nanik lahir di Madiun, 3 Januari 1968, dari keluarga sederhana. Ayahnya seorang pegawai biasa, ibunya ibu rumah tangga yang tegas. Masa kecil dan remajanya dilalui penuh dengan disiplin keras, nilai-nilai kejujuran, dan kerja keras; ciri khas pendidikan di tanah Madiun yang kental dengan semangat pendekar: berani membela kebenaran, teguh pendirian, dan menjunjung tinggi keadilan.

Tamat SD Muhammadiyah Madiun 1974-1980

Di sekolah dasar ini, benih keberaniannya mulai tumbuh. Menurut kenangan teman sepermainannya, Nanik adalah anak yang cerdas, tapi yang paling menonjol adalah sifatnya yang tak pernah takut bersuara kalau melihat ketidakadilan.
“Kalau ada teman yang dijahati atau diperlakukan tidak adil, Nanik pasti yang pertama kali maju membela. Dia tidak peduli lawannya siapa, yang penting menurut dia benar,” begitu kenang seorang teman masa kecilnya. Di sini ia belajar bahwa kebenaran harus diperjuangkan, meski sendirian; persis jiwa pendekar. Ia dikenal sebagai murid yang rajin, selalu masuk 5 besar, dan sangat aktif dalam organisasi siswa. Disiplin Muhammadiyah yang kuat membentuk dasawarsa pertumbuhan jiwanya.

SMP Negeri 2 Madiun (1980 – 1983)

Melanjutkan ke SMP Negeri 2 Madiun, salah satu sekolah favorit dan paling bergengsi saat itu. Di sinilah jiwa kepemimpinan dan kepekaan sosialnya makin terasah. Nanik bukan hanya siswa yang pintar akademik, tapi sangat aktif di Pramuka dan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Guru-gurunya masih ingat betul sosok Nanik remaja: “Dia gadis Madiun sejati. Tegas bicara, tegap berjalan, punya pendirian kuat, dan sangat peka pada teman yang kurang mampu. Sering kali ia membagi bekal makanannya atau alat tulisnya kepada teman yang kesulitan.”
Di masa SMP ini pula, ia mulai suka menulis karangan di dinding kelas dan majalah dinding. Tulisan-tulisannya sudah berisi kritik sosial sederhana, keluh kesah rakyat, dan semangat keadilan. Benih jurnalisme sudah tumbuh sejak dini.

SMA Negeri 1 Madiun (1983 – 1986)

Ini adalah puncak masa remajanya, di SMA Negeri 1 Madiun, sekolah elit yang melahirkan banyak tokoh. Di sini Nanik semakin matang. Ia memilih jurusan IPA, menunjukkan ketertarikannya pada fakta, data, dan ketelitian; modal besar yang kelak sangat berguna saat ia membongkar kasus-kasus besar.

Di SMA 1 Madiun, Nanik dikenal sebagai sosok yang berapi-api. Ia aktif di berbagai organisasi, selalu menjadi pengurus inti, dan sering kali menjadi pembicara atau penulis pidato dalam berbagai acara sekolah.

“Nanik itu keras kepala kalau soal prinsip. Kalau dia yakin benar, tidak ada yang bisa mengubah pendiriannya. Tapi hatinya lembut sekali, sangat perasa,” kenang salah satu sahabat SMA-nya.

Lulus SMA dengan nilai sangat memuaskan, Nanik muda memiliki mimpi besar: ingin menjadi orang yang bisa mengubah nasib rakyat, ingin membela yang lemah. Pilihannya jatuh ke jurusan Biologi di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto.

Sarjana Biologi – Unsoed (1986 – 1991)

Menarik dicatat, Nanik adalah sarjana Biologi. Latar belakang sains ini membuat cara berpikirnya selalu berbasis data, fakta, dan bukti. Ia tidak suka omong kosong. Namun, di bangku kuliahlah jiwa seninya dan jiwa sosialnya meledak. Ia sangat aktif di pers mahasiswa, menulis tajam tentang kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan pembangunan. Di sinilah ia menyadari: Sumpah Pemuda dan semangat membela rakyat, paling efektif disuarakan lewat tulisan.

Baca Juga:  Rekrutmen KPK: 5 Tahun Pengalaman “Relevan”? Relevan Buat Siapa?

Latar belakang ilmu pengetahuan alam dan biologi inilah yang kini justru menjadi kekuatan utamanya saat mengurus gizi nasional. Ia paham benar zat gizi, kesehatan, dan dampaknya bagi tubuh manusia.

Waryawan: Suara Pendekar yang Tak Pernah Bungkam

Lulus kuliah, Nanik tak menjadi peneliti atau dokter. Ia memilih jalan terjal: Dunia Jurnalistik. Ia bergabung dengan Tabloid Bangkit di bawah naungan Kompas Gramedia. Di sana ia ditempa disiplin jurnalistik yang tinggi: akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

Namun jiwa merdekanya tak bisa dibendung. Ia mendirikan Kelompok Media Peluang, yang membawahi berbagai media mulai dari majalah wanita Femme, hingga yang paling legendaris: Tabloid THE POLITIC.

Di media inilah nama Nanik S. Deyang melambung tinggi, ditakuti penguasa, dan dicintai rakyat. Gaya tulisannya khas: tegas, berapi-api, menggunakan bahasa rakyat, emosional namun berdasar fakta; persis cara bicara pendekar: lurus, jujur, dan berani. Ada tiga tulisan monumentalnya yang tercatat dalam sejarah pers Indonesia:

  1.  “Jokowi: Pribadi Langka di Saat Moral Terjual” (2012) Tulisan yang memuji pemimpin yang bekerja di lapangan, bersih, dan dekat rakyat. Tulisan ini menjadi rujukan standar pemimpin ideal bagi masyarakat saat itu.​
  2. “Surat Terbuka untuk Megawati: Bu, Bangunlah dari Kesombonganmu!” (2014) – Ini adalah karya tulis paling berani dan monumental. Nanik berani mempertanyakan kebijakan ekonomi, penjualan BUMN, dan nasib petani di hadapan ketua umum partai besar. Tulisan ini menyebar ke seluruh Nusantara, membuatnya masuk daftar hitam lingkaran kekuasaan, tapi dielu-elukan rakyat.
  3. Seri “Tersobek Batin Saya” (2016–2018) – Rangkaian tulisan yang mengungkap duka petani, mafia pangan, dan kebocoran ekonomi negara. Ia menulis dengan air mata kemarahan melihat kekayaan alam Indonesia tak dinikmati anak bangsa.

Prinsip jurnalistik Nanik tegas: “Saya tidak pernah netral. Posisi saya selalu jelas: berdiri di sisi orang kecil, orang miskin, anak-anak, dan perempuan. Musuh saya hanya dua: ketidakadilan dan korupsi.”

Titik Terberat Yang Mematangkan Jiwa Pendekar

Perjalanan wanita dari Kota Pendekar ini tak mulus. Puncak ujian ketegarannya terjadi pada tahun 2018, saat kasus Ratna Sarumpaet. Nanik ikut bersuara membelakan Ratna, yang ternyata terbukti membuat berita bohong. Konsekuensinya sangat berat: ia dilaporkan ke polisi, medianya diserang, reputasi digoyang, keluarganya terpukul. Ibunya terkena stroke karena stres, dan anaknya gagal masuk Akademi Militer karena masalah hukum ini.

Banyak orang menyangka Nanik akan runtuh, diam, atau pergi. Tapi sifat asli Wanita Pendekar Madiun muncul seutuhnya. Ia tak lari. Ia mengaku salah di bagiannya yang kurang cek ulang fakta, tapi ia berdiri teguh pada prinsipnya: “Saya wartawan, tugas saya menyuarakan apa yang saya dengar dan rasakan. Saya akui kekhilafan saya, tapi saya tak berniat jahat. Saya bangkit kembali.”

Kasus inilah yang justru membawanya semakin dekat dengan Prabowo Subianto, yang melihat Nanik sebagai sosok yang jujur, konsisten, dan menjadi korban permainan politik.

Kini: Jiwa Wartawan dan Pendekar di Puncak Pimpinan Gizi

Sejarah berputar indah. Dari wartawan yang sering menulis tentang kelaparan dan kemiskinan, kini Nanik S. Deyang diberi amanah langsung oleh Presiden untuk memastikan jutaan anak Indonesia mendapatkan makanan bergizi.

Dilantik menjadi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 2 Juni 2026 menggantikan pimpinan yang dicopot karena kinerja buruk, Nanik membawa segenap pengalaman hidupnya. Ia membawa ketegasan ala pendekar: tak kompromi paday kesalahan. Ia membawa kepekaan sosial ala anak Madiun: hatinya sakit kalau ada anak yang menderita.

Hari-hari pertamanya menjabat, ia langsung bicara lantang: “Presiden ingin anak makan, bukan anak diperdagangkan! Jangan ada lagi permainan, jangan ada lagi makanan jelek. Saya jamin, saya awasi. Kalau salah, saya bongkar!”

Kisah Nanik Sudaryati Deyang adalah kisah inspiratif: Seorang gadis kecil dari Madiun, Kota Pendekar, ditempa disiplin sekolah, ditempa kerasnya dunia pers, jatuh bangun dalam politik, dan kini bangkit menjadi pemimpin yang mengawal masa depan bangsa.

Ia bukti nyata: Bahwa seorang wartawan, meski sudah duduk di kursi empuk pejabat, tak pernah mati jiwanya. Nanik tetaplah Nanik: wanita pendekar yang tak pernah berhenti berjuang demi kebenaran dan kesejahteraan rakyatnya.

Penulis: Pakar Komunikasi dan Kebijakan Publik

Komentar ditutup.

Berita Terkait

Program Makan Bergizi Gratis: Siapa Sebenarnya Diuntungkan?
Kekayaan Nasional Itu Kekayaan Seluruh Warga Negara Indonesia
Merayakan “Kematian” Pancasila
Dari Pra Bowo ke Paska Bowo
Penafsiran Tegas MK: Membangkitkan Semangat Kerja Pejabat Publik dan PNS dari Tafsir yang Menjeratkan
Idul Adha:  Perspektif Ekonomi-Politik
Membunuh Kebinatangan Manusia
Kepongahan AS Meredup, Kekuasaan Tak Lagi Mutlak
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 09:32 WIB

Mengenal Lebih Dekat Kepala BGN Nanik S Dayeng

Selasa, 2 Juni 2026 - 06:04 WIB

Program Makan Bergizi Gratis: Siapa Sebenarnya Diuntungkan?

Selasa, 2 Juni 2026 - 05:46 WIB

Kekayaan Nasional Itu Kekayaan Seluruh Warga Negara Indonesia

Selasa, 2 Juni 2026 - 05:42 WIB

Merayakan “Kematian” Pancasila

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:43 WIB

Dari Pra Bowo ke Paska Bowo

Berita Terbaru

Nanik S Dayeng Foto: Ist)

Opini

Mengenal Lebih Dekat Kepala BGN Nanik S Dayeng

Rabu, 3 Jun 2026 - 09:32 WIB

Kantor Pusat Badan Gizi Nasional (BGN) Foto: dok. Aditiya/Mediakarya

Ekonomi & Bisnis

Presiden Prabowo Copot Tiga Pejabat Penting di BGN

Selasa, 2 Jun 2026 - 21:37 WIB

Ketua DPP LPKAN Indonesia, Husin Salim (kiri)

Ekonomi & Bisnis

DPP LPKAN Indonesia Siap jadi Mitra Strategis Kawal PP 20 Tahun 2026

Selasa, 2 Jun 2026 - 21:04 WIB