KABUPATEN BEKASI, Mediakarya – Kegiatan pemeriksaan kesehatan gratis bagi pemulung dan warga sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng digelar pada Jumat, 22 Mei 2026. Kegiatan ini diinisiasi oleh Komunitas Pemulung dan Pelapak Pilah Burangkeng (KP3B) dengan dukungan Pokja Wartawan Setu serta melibatkan tim medis dari Puskesmas Setu 1.
Ketua KP3B, Narta Nurhata, mengatakan program ini merupakan langkah preventif untuk menjaga kesehatan masyarakat yang sehari-hari beraktivitas di sekitar lingkungan TPA.
“Program cek kesehatan gratis ini merupakan salah satu program komunitas kami dalam rangka upaya preventif menjaga kesehatan warga dan para pemulung yang berada berdekatan dengan TPA Burangkeng. Kita semua tahu, gunung sampah ini adalah tempatnya virus, bakteri, dan jamur,” ujarnya.
Dia juga menyoroti potensi bahaya gas yang dihasilkan dari pembusukan sampah, termasuk gas metana yang saat ini menjadi perbincangan hangat bahwa Bekasi adalah penyumbang gas metana tertinggi nomor dua di dunia. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk menggelar kegiatan serupa secara rutin setiap bulan.
“Kami merasa terpanggil agar masyarakat di sekitar TPA dan para pemulung mendapatkan penanganan kesehatan sejak dini dalam mengatasi paparan dampak negatif dari gunung sampah,” tambahnya.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari Ketua Pokja Wartawan Setu, Andi Saddam. Dia mengapresiasi kolaborasi yang terjalin antara komunitas, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak.
“Alhamdulillah Pokja Setu dapat membersamai kegiatan ini. Terima kasih kepada Puskesmas Setu 1 atas partisipasinya. Kita berharap kegiatan positif seperti ini dapat terus berlanjut pada bulan mendatang,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Setu 1, Yeye Supriatmi, menyambut baik kegiatan tersebut. Dia menyebutkan bahwa kegiatan ini menjadi momentum awal yang positif dalam upaya pelayanan kesehatan bagi komunitas pemulung.
“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini. Ini momen pertama yang dilakukan, dan kami sangat respons terhadap permohonan dari komunitas sehingga kegiatan bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Dia juga menjelaskan bahwa dari hasil pemeriksaan sementara, sebagian besar peserta mengeluhkan kondisi ringan seperti pegal-pegal. Namun, ditemukan juga beberapa riwayat penyakit seperti asma, hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes.
“Untuk saat ini, ada beberapa yang memiliki riwayat penyakit seperti asma, jantung, tekanan darah tinggi, dan kencing manis. Kami sudah berikan obat, namun terbatas hanya untuk tiga hari, sehingga perlu pemeriksaan lanjutan,” jelas Yeye.
Dia menambahkan, lingkungan TPA berpotensi memicu berbagai penyakit, mulai dari penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan (ISPA), hingga gangguan kesehatan lainnya akibat paparan limbah.
“Biasanya banyak pemulung mengalami penyakit kulit, sesak napas, dan ISPA. Ini membutuhkan kerja sama lintas sektor, tidak hanya tenaga kesehatan, tetapi juga lingkungan hidup dan penataan kawasan,” katanya.
Ke depan, pihak Puskesmas berharap kegiatan serupa dapat menjangkau lebih banyak peserta dengan dukungan dari pemerintah desa dan kecamatan. Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang tersedia, termasuk Puskesmas Setu 3 yang telah mulai beroperasi di wilayah tersebut.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan kesadaran dan akses layanan kesehatan bagi masyarakat rentan di sekitar TPA Burangkeng. (Supri)











