Reformasi Polri: Mengembalikan Supremasi Hukum dan Kepercayaan Publik

- Editor

Kamis, 25 September 2025 - 12:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Adi Yunsyah (Monel)

Sejak reformasi 1998, Polri menempati posisi strategis sebagai institusi penegak hukum dengan mandat menjaga keamanan dan menegakkan supremasi hukum. Namun, warisan praktik lama seperti penyalahgunaan kewenangan, rekayasa kasus, hingga selective enforcement belum sepenuhnya hilang.

Berbagai peristiwa besar mulai dari tragedi Kanjuruhan, kasus Sambo, hingga dugaan extra judicial killing telah mengguncang kepercayaan publik. Survei LSI (2023) mencatat tren menurun dalam tingkat kepercayaan masyarakat, meski Polri masih berada di tiga besar lembaga negara yang relatif dipercaya. Kondisi ini memperlihatkan paradoks: masih ada basis kepercayaan publik yang besar, namun pada saat yang sama terdapat krisis legitimasi yang serius.

Dalam konteks krisis legitimasi tersebut, beberapa kasus di tingkat daerah memperlihatkan indikasi serius adanya penyalahgunaan kewenangan. Salah satunya perkara narkotika yang menjerat seorang anggota Polri berprestasi di Kalimantan Tengah. Kasus ini memperlihatkan sejumlah kejanggalan prosedural:

Pertama, Rantai penguasaan barang bukti (chain of custody) terputus, sehingga validitas bukti dipertanyakan.

Kedua, selective prosecution, di mana aktor utama jaringan tidak diproses, sementara pihak lain dijadikan korban.

Ketiga, prosedur penggeledahan cacat hukum, karena tidak sesuai dengan ketentuan KUHAP.

Keempat, status justice collaborator diabaikan, meski secara hukum telah memenuhi syarat.

Rangkaian kejanggalan tersebut tidak hanya merugikan individu yang terlibat, tetapi juga memberi sinyal tentang lemahnya mekanisme kontrol internal. Dengan kata lain, kasus ini bukan soal personal semata, melainkan refleksi dari persoalan kelembagaan yang lebih dalam.

Agenda Reformasi yang Mendesak

Kasus di atas seharusnya diposisikan sebagai alarm bagi Polri, bahwa reformasi kelembagaan tidak bisa lagi ditunda. Ada beberapa agenda strategis yang perlu menjadi prioritas:

Penguatan Mekanisme Pengawasan

Polri perlu memperkuat fungsi Propam dan Irwasum, tidak hanya sebagai lembaga administratif, tetapi juga dengan kewenangan investigatif independen. Selain itu, Kompolnas perlu diberi peran lebih kuat sebagai pengawas eksternal yang efektif. Mekanisme civilian oversight melibatkan masyarakat sipil, akademisi, dan lembaga independen dapat menjadi pelengkap penting untuk menjaga transparansi.

 Reformasi Proses Penyidikan

Standarisasi penyidikan berbasis norma internasional harus diterapkan. ISO/IEC 27037 dalam forensik digital, misalnya, dapat menjamin integritas barang bukti elektronik. Semua penyitaan dan penggeledahan harus memenuhi ketentuan KUHAP dan diawasi ketat untuk menghindari manipulasi.

Perlindungan terhadap Justice Collaborator

Status justice collaborator tidak boleh sekadar formalitas. Perlindungan nyata harus diberikan, baik kepada aparat maupun warga yang berperan dalam mengungkap jaringan kejahatan. Hal ini penting agar masyarakat tidak takut bersuara, dan aparat tidak dikorbankan dalam praktik mafia hukum.

Baca Juga:  Kepercayaan Publik Meningkat, Haidar Alwi: Bukti Reformasi Polri Mulai Dirasakan Masyarakat 

Pemisahan Kasus Individu dan Institusi

Kesalahan individu tidak boleh dibenarkan atas nama menjaga marwah institusi. Penanganan kasus dugaan rekayasa harus ditarik ke Mabes Polri atau tim independen untuk mencegah konflik kepentingan di tingkat daerah. Dengan demikian, integritas institusi dapat tetap terjaga.

Konsistensi Reward and Punishment

Polri perlu menegakkan prinsip reward and punishment secara konsisten. Anggota yang berintegritas harus diberi kepercayaan untuk memimpin perubahan, sementara pelanggar aturan perlu dikenai sanksi tegas. Konsistensi ini akan menegaskan bahwa Polri adalah organisasi yang dipimpin oleh nilai integritas, bukan loyalitas semu.

Menjaga Supremasi Hukum dan Kepercayaan Publik

Supremasi hukum hanya akan tegak bila ditegakkan secara jujur, transparan, dan berkeadilan. Jika praktik rekayasa dibiarkan, maka hukum hanya akan menjadi instrumen kekuasaan, dan kepercayaan publik terhadap Polri semakin terkikis.

Kasus-kasus di daerah, termasuk perkara yang menimpa Brigpol Fathurrahman, hanyalah satu ilustrasi dari problem yang lebih besar. Tantangan sesungguhnya adalah apakah Polri mampu menempatkan hukum kembali sebagai panglima, ataukah membiarkan hukum tunduk pada rekayasa segelintir oknum.

Dengan reformasi yang konsisten, Polri dapat mengembalikan dirinya sebagai institusi terpercaya, mitra rakyat, serta instrumen negara dalam melindungi warga, menjaga demokrasi, dan menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Untuk itu, pentingnya responsivitas dan pendekatan humanis dalam kepolisian untuk memperbaiki citra positif di mata masyarakat. Berdasarkan penilaian publik, bahwa institusi Polri saat ini sudah di tahap yang sangat memprihatinkan.

Keburukan dan perilaku oknum anggota Polri selalu menjadi konsumsi publik dan terpantau hampir di sejumlah platform media. Dari sederet kasus yang membawa anggota Polri sebagai pelakunya membuat tingkat kepercayaan publik menurun drastis.

Jika hari ini ada survei yang menyatakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap kinerja Polri meningkat maka dipastikan hanya rekayasa.

Oleh karena itu, Korps Bhayangkara itu segera berbenah. Selain itu membersihkan anggota-anggotanya yang selama ini membuat citra polisi menjadi terpuruk.

Pasalnya, sejumlah kasus yang melibatkan anggota polisi seringkali terjadi. Seperti dari polisi tembak polisi, polisi tembak anak sekolah, polisi bunuh ibu kandungnya, hingga kasus polisi peras warga negara asing di konser DWP.

Baru-baru ini seorang anggota polisi di level Polres peras pengusaha hingga puluhan miliar. Sepertinya kasus pemerasan di institusi Polri sudah mentradisi. Jadi wajar ada istilah “jika hilang kambing dan melapor polisi maka bisa jual sapi”. Artinya  citra Polri di mata masyarakat pada posisi terendah.

Penulis: Tokoh Pemuda Bekasi Raya dan Mantan Aktivis Reformasi

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Praktisi Hukum Herdiyan Saksono Bedah Skandal Penyadapan Ilegal Pejabat Tinggi: Puncak Gunung Es Rusaknya Demokrasi
BTS 4G di Wilayah 3T Mulai Beroperasi, Kontraktor Klaim Tagihan Ratusan Miliar Belum Dibayar
Mahfud MD Tegaskan Pasal Makar Mengintai Mantan Kapolri, Bisa Hukuman Mati!
Akhir Petualangan Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Bawah Bayang-Bayang Jokowi
Tak Hanya Presiden: Listyo Sigit dan 2 Irjen Juga Sadap Tokoh Politik, Media, Ormas, Hingga Pengusaha
Penyadapan Prabowo Diduga Upaya Kudeta Antarkan Gibran Jadi RI-1 Demi Selamatkan Jokowi
Spekulasi di Balik Penangkapan Sejumlah Perwira Tinggi Polri: Dari Isu Penyadapan Ilegal, Beking Judol, Hingga Korupsi
Inisiator GNK Sebut Kapolda Jateng Paling Bertanggung Jawab, Seharusnya Dicopot Duluan

Berita Terkait

Kamis, 5 November 2026 - 13:44 WIB

Praktisi Hukum Herdiyan Saksono Bedah Skandal Penyadapan Ilegal Pejabat Tinggi: Puncak Gunung Es Rusaknya Demokrasi

Rabu, 4 November 2026 - 17:34 WIB

BTS 4G di Wilayah 3T Mulai Beroperasi, Kontraktor Klaim Tagihan Ratusan Miliar Belum Dibayar

Rabu, 4 November 2026 - 08:58 WIB

Mahfud MD Tegaskan Pasal Makar Mengintai Mantan Kapolri, Bisa Hukuman Mati!

Rabu, 4 November 2026 - 05:51 WIB

Akhir Petualangan Jenderal Listyo Sigit Prabowo di Bawah Bayang-Bayang Jokowi

Rabu, 4 November 2026 - 05:13 WIB

Tak Hanya Presiden: Listyo Sigit dan 2 Irjen Juga Sadap Tokoh Politik, Media, Ormas, Hingga Pengusaha

Berita Terbaru