Revolusi Pemikiran Dengan UU Perekonomian Nasional

- Editor

Senin, 21 Juli 2025 - 08:19 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Diskusi publik bertajuk

Diskusi publik bertajuk "Ekonomi Inklusif, Menolak Ekonomi Ekstraktif: Menuju Revolusi Pancasila dalam Perekonomian Nasional" yang diselenggarakan Nusantara Centre di Jakarta Pusat, Ahad (20/7/'25).

JAKARTA, Mediakarya – Meski sudah 79 tahun Indonesia merdeka secara politik, namun ketimpangan ekonomi sangat menganga. Di mana terjadi perbedaan yang mencolok dalam distribusi pendapatan, kekayaan, dan kesempatan di antara berbagai kelompok masyarakat.

Hal itu dapat dilihat dari perbedaan penghasilan yang tinggi antara si kaya dan si miskin, atau perbedaan tingkat kemakmuran antar daerah.

Absennya Undang-Undang Perekonomian Nasional (UUPN) bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan kudeta senyap terhadap konstitusi.

Hal tersebut terungkap dalam diskusi publik bertajuk “Ekonomi Inklusif, Menolak Ekonomi Ekstraktif: Menuju Revolusi Pancasila dalam Perekonomian Nasional” yang diselenggarakan Nusantara Centre di Jakarta Pusat, Ahad (20/7/’25).

Dalam diskusi yang menghadirkan dua narasumber utama, Dr. Yudhi Haryono (Ekonom Pancasila) dan Dr. Agus Rizal (Universitas MH Thamrin) itu terungkap bahwa negara secara sistemik telah membiarkan logika pasar bebas dan kekuasaan modal menyingkirkan ideologi Pancasila dari panggung kebijakan ekonomi.

Pengamat ekonomi dari Universitas MH Thamrin, Agus Rizal menyampaikan kritik pedas atas ketimpangan struktural dan sabotase legislasi yang terjadi selama puluhan tahun.

“Ketiadaan UUPN bukan karena lupa, tapi karena terlalu banyak pihak yang menikmati ketimpangan,” tegas Dr. Agus Rizal.

Pasal 33 UUD 1945: Mati di Tangan Pasar

Sementara itu, Ekonom Pancasila, Yudhie Haryono menyampaikan
menyampaikan kritik tajamnya lantaran keberpihakan negara yang makin menjauh dari semangat Pasal 33 UUD 1945.

Alih-alih menjaga kedaulatan atas cabang-cabang produksi penting, negara justru menjadi agen modal asing yang menjual sektor-sektor strategis demi investasi.

Baca Juga:  Petugas LP Jambi Bisa Disanksi Atas Kasus Kematian Tahanan Jaksa

“Legislasi ekonomi bukan soal teknis, ini soal ideologi. Apakah kita masih Republik merdeka, atau sudah jadi koloni korporasi global?” kata Yudhi Haryono lantang.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber menyimpulkan bahwa tanpa UUPN, Indonesia sedang mengalami “ekonomi tanpa ideologi” sistem yang kehilangan kompas, kehilangan keberpihakan, dan kehilangan rakyat sebagai pusatnya.

Menurut dia, UUPN bukan sekadar produk hukum, tetapi merupakan manifesto ideologis bangsa. Ia harus menjawab pertanyaan dasar: apakah Indonesia ingin berdaulat secara ekonomi atau selamanya menjadi pelayan kapitalisme global.

“Diam adalah bentuk persetujuan. Bergerak adalah bentuk keberpihakan. Jika ekonomi tidak dibela, maka republik ini akan dijual ke meja lelang global,” ujar Yudhi.

Nasionalisasi: Hak Konstitusional, Bukan Dosa Politik

Gagasan nasionalisasi juga ditegaskan sebagai langkah konstitusional yang sah, bukan ekstrem. Dr. Yudhi mengutip hukum internasional dan UU No. 25 Tahun 2007 yang memberi ruang bagi negara untuk mengambil alih sektor asing yang mengancam kepentingan nasional dengan syarat adil dan berkeadilan.

“Nasionalisasi bukan tabu, tapi alat berdaulat. Negara tak boleh ragu membela rakyat,” tegasnya.

Saatnya Revolusi Ekonomi Konstitusi

Untuk itu, dirinya berharap agar UU Perekonomian Nasional menjadi prioritas etik dan politik bangsa. “Ini bukan soal teknis perundang-undangan, melainkan soal kedaulatan dan nasib sejarah,” ujarnya.

‘Jika rakyat diam, sejarah akan ditulis oleh pasar. Dan jika bukan kita yang menulis ulang arah ekonomi bangsa, lalu siapa?,” imbuhnya.**

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Kolaborasi PAM JAYA dan Pemkot JakTim, Prasarana Olahraga Tinju di Kampung Melayu Diresmikan Gubernur Pramono
Habiburokhman: Prestasi Listyo Jadi Nol Usai Sadap Presiden
Gerindra Harus Evaluasi Habiburrahman, Pemuji Listyo Sebagai Kapolri Terbaik
Kapolri Terbaik Versi Habiburrahman Kini Jadi Tersangka Akibat Menyadap Presiden
Golkar Perkuat Mesin Komunikasi Politik Lewat Teknologi AI
Kapolri Didesak Tarik Semua Penyidik Polri di KPK yang Masih Setia ke Listyo Sigit
Koimisi III DPR RI Percayakan kepada Polri Ungkap Kasus Penyadapan yang diduga Dilakukan oleh Listyo Sigit Cs
Praktisi Hukum Herdiyan Saksono Bedah Skandal Penyadapan Ilegal Pejabat Tinggi: Puncak Gunung Es Rusaknya Demokrasi

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 10:40 WIB

Kolaborasi PAM JAYA dan Pemkot JakTim, Prasarana Olahraga Tinju di Kampung Melayu Diresmikan Gubernur Pramono

Sabtu, 7 November 2026 - 19:18 WIB

Habiburokhman: Prestasi Listyo Jadi Nol Usai Sadap Presiden

Jumat, 6 November 2026 - 21:56 WIB

Gerindra Harus Evaluasi Habiburrahman, Pemuji Listyo Sebagai Kapolri Terbaik

Jumat, 6 November 2026 - 21:37 WIB

Kapolri Terbaik Versi Habiburrahman Kini Jadi Tersangka Akibat Menyadap Presiden

Jumat, 6 November 2026 - 17:12 WIB

Golkar Perkuat Mesin Komunikasi Politik Lewat Teknologi AI

Berita Terbaru

Ilustrasi  (Foto: Ist)

Opini

Polri Milik Negara Bukan Milik Kekuasaan

Minggu, 8 Nov 2026 - 08:37 WIB

Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman (Foto: dok. Fraksi Gerindra)

Headline

Habiburokhman: Prestasi Listyo Jadi Nol Usai Sadap Presiden

Sabtu, 7 Nov 2026 - 19:18 WIB