JAKARTA, Mediakarya – Transformasi kampus menuju energi bersih tidak bisa hanya mengandalkan pemasangan panel surya. Prof. Syamsir Abduh, Guru Besar Institut Teknologi PLN (ITPLN), menegaskan bahwa transisi energi di lingkungan perguruan tinggi harus dilakukan secara sistemik, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Menurutnya, terdapat empat strategi kunci yang menentukan keberhasilan kampus dalam menjalankan transisi energi secara efektif.
Kepemimpinan Jadi Penentu Arah
Faktor pertama adalah komitmen kepemimpinan. Tanpa dukungan penuh dari pimpinan kampus, inisiatif energi bersih berisiko berjalan sporadis dan tidak berkelanjutan.
“Kepemimpinan menjadi penggerak utama. Transisi energi harus menjadi agenda strategis kampus, bukan sekadar proyek simbolik,” ujar Syamsir.
Perencanaan Harus Berbasis Data
Faktor kedua adalah penggunaan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Data konsumsi energi, profil beban, hingga potensi energi terbarukan menjadi elemen penting dalam menyusun strategi yang tepat sasaran.
Tanpa basis data yang kuat, kebijakan energi berisiko tidak efektif dan sulit dioptimalkan.
Sinkronisasi Teknologi, Kebijakan, dan Pembiayaan
Faktor ketiga adalah integrasi lintas aspek, mulai dari teknologi, kebijakan, hingga keuangan. Pengembangan kurikulum berbasis energi hijau juga perlu selaras dengan kebutuhan industri dan kesiapan institusi.
“Banyak proyek energi gagal bukan karena teknologi, tetapi karena tidak selaras dengan kebijakan dan kemampuan finansial,” jelasnya.
Monitoring Berkelanjutan Jadi Kunci
Faktor keempat adalah pemantauan dan evaluasi berkelanjutan. Sistem monitoring diperlukan untuk memastikan efisiensi, keandalan, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi energi.
Evaluasi rutin juga membantu kampus menyesuaikan strategi agar tetap relevan dan efektif.
Kampus Harus Jadi Pusat Inovasi Energi
Syamsir menekankan bahwa transisi energi di kampus bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi transformasi menyeluruh yang melibatkan kebijakan, perilaku, hingga model pembiayaan.
“Ini adalah perubahan sistemik yang melibatkan seluruh ekosistem kampus,” tegasnya.
Dengan pendekatan tersebut, kampus diharapkan tidak hanya menjadi pengguna energi bersih, tetapi juga menjadi pusat inovasi dan pencetak sumber daya manusia unggul di bidang transisi energi. (Hab)










