PSI Terancam Pecah, Mantan Kader Mulai Buka-Bukaan

- Penulis

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Logo Partai Solideritas Indonesia (Foto: Ist)

Logo Partai Solideritas Indonesia (Foto: Ist)

JAKARTA, Mediakarya – Kasus dugaan ujaran kebencian terhadap mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) melibatkan pelaporan sejumlah kader Partai Solideritas Indonesia (PSI) seperti Ade Armando dan Grace Natalie berujung pada persoalan hukum.

Kontroversi ini mencuat menyusul reaksi keras terhadap potongan video ceramah JK yang berujung pada dugaan penghasutan. Buntutnya, sebanyak 40 organisasi masyarakat (ormas), melaporkan kedua kader PSI itu ke Polda Metro Jaya.

Manuver kedua kader partai berlambang kepala gajah itu dinilai bukan hanya membuat geram puluhan Ormas, internal PSI pun sepertinya merasa dirugikan dengan ulah Ade Armando dan Grace Natalie.

Namun, polemik kasus ujaran kebencian terhadap mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK), membuat Ade Armando akhirnya mengundurkan diri dari kader PSI.

Meski demikian, persoalan ini bukan berarti reda, Ade Armando justru kerap berstatment di media sosial. Publik pun menilai bahwa langkah Ade justru kerap blunder.

Bahkan Ketua DPP PSI Bidang Politik, Bestari Barus, memberikan teguran keras kepada Ade yang dianggap terlalu jauh mencampuri urusan dapur partai usai tak lagi menjadi kader.

Teguran ini merupakan respons atas pernyataan Ade dalam siniar di kanal YouTube Zulfan Lindan Unpacking, di mana Ade mengeklaim dirinya dianggap sebagai “beban” bagi citra baru PSI.

“Kami menilai Ade Armando sudah terlalu jauh masuk ke ruang yang dia tidak berkewenangan dan dia tidak kompeten,” tegas Bestari, sebagaimana dilansir dari sejumlah media, Rabu (13/5/2026).

Bestari pun meluruskan persepsi publik mengenai posisi Ade Armando di dalam partai selama ini.

Menurutnya, sejak Kongres Solo digelar, Ade tidak pernah terlibat dalam pengelolaan strategis maupun struktur kepengurusan pusat.

Baca Juga:  Kenapa PSI Beraninya Hanya Kritik Gubernur DKI Jakarta

“Armando tidak pernah dilibatkan dalam pengelolaan PSI pasca-Kongres Solo. Sekadar anggota biasa yang kebetulan pernah diberi kesempatan untuk jadi Caleg PSI,” sindir Bestari.

Menurut Bestari, pernyataan-pernyataan Ade mengenai dinamika internal partai cukup “menggelitik” namun tidak memiliki dasar wewenang yang kuat.

PSI Ogah Terlibat, Ade Diminta Fokus Hadapi Kasus Hukum

Tak hanya menyentil status kader, Bestari juga meminta pegiat media sosial itu untuk lebih fokus melakukan introspeksi diri dan menata urusan pribadinya ketimbang terus mengomentari institusi PSI.

Bestari secara tegas menyatakan bahwa PSI tidak akan memberikan bantuan atau terlibat dalam kasus hukum yang kini menjerat Ade terkait dugaan penghasutan dan ujaran kebencian.

“Ada baiknya saudara Ade Armando introspeksi diri. Tidak perlu turut campur mengurusi institusi PSI dari sini dan ke depan,” tambahnya.

Sebelumnya, Ade Armando mulai blak-blakan mengenai alasan di balik pengunduran dirinya pada 5 Mei lalu.

Ade mengaku sudah lama mendengar suara-suara di internal partai yang menginginkannya keluar karena dianggap merusak strategi rebranding citra baru PSI di mata pemilih.

“Saya sudah dengar suara-suara di dalam PSI yang mengatakan bahwa saya harus diberhentikan, dikeluarkan,” kata Ade.

Spekulasi perpecahan di tubuh Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengemuka akibat polarisasi internal, kritik terbuka dari kader terhadap DPP, hingga mundurnya tokoh seperti Ade Armando.

Selain itu, Wakil Ketua Umum PSI Ronald Sinaga juga sempat terlibat insiden fisik di Menteng, sementara tangis Ketua Umum Kaesang Pangarep sempat pecah dalam Rapat Koordinasi yang membahas evaluasi dan peremajaan kepengurusan partai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Kaukus Ekonom Pancasila Serahkan Draft RUU Perekonomian Nasional kepada Kepala Staf Kepresidenan
SPPG Polri Pekayon Jaya Terlambat Bikin IPAL
Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Tindakan Represif TNI Usir Penonton Film “Pesta Babi”
Proyek IKN di Kaltim Terancam Mangkrak, Jakarta Tetap Jadi Ibu Kota Negara
Hizbullah: Medan Tempur akan Dijadikan Neraka Bagi Tentara Zionis
KPK Sebut Bupati Pekalongan Nonaktif Diduga Lakukan Korupsi Bersama Ajudannya
Berhasil Bongkar Kasus Jodol Jaringan Internasional, Komisi III Apresiasi Kinerja Polri
Nestapa Industri Perunggasan Kecil di Indonesia, Guru Besar IPB: Negara Harus Hadir, Karena Sudah Tidak Sehat
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:42 WIB

Kaukus Ekonom Pancasila Serahkan Draft RUU Perekonomian Nasional kepada Kepala Staf Kepresidenan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:17 WIB

SPPG Polri Pekayon Jaya Terlambat Bikin IPAL

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:12 WIB

PSI Terancam Pecah, Mantan Kader Mulai Buka-Bukaan

Kamis, 14 Mei 2026 - 08:34 WIB

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Tindakan Represif TNI Usir Penonton Film “Pesta Babi”

Rabu, 13 Mei 2026 - 20:48 WIB

Proyek IKN di Kaltim Terancam Mangkrak, Jakarta Tetap Jadi Ibu Kota Negara

Berita Terbaru

Bekasi

SPPG Polri Pekayon Jaya Terlambat Bikin IPAL

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:17 WIB

Logo Partai Solideritas Indonesia (Foto: Ist)

Headline

PSI Terancam Pecah, Mantan Kader Mulai Buka-Bukaan

Kamis, 14 Mei 2026 - 11:12 WIB