Signifikansi Pembuktian Unsur Mens Rea dan Actus Reus dalam Pertanggungjawaban Pidana Anak: Studi Kasus Luka Akibat Tali Layangan”

- Editor

Rabu, 6 Agustus 2025 - 20:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Padlilah, S.H., M.H. Praktisi Hukum Sukabumi

Abstrak

Unsur mens rea (sikap batin/niat) dan actus reus (perbuatan fisik) merupakan komponen esensial dalam menentukan pertanggungjawaban pidana. Artikel ini membahas penerapan kedua unsur tersebut dalam kasus konkret: seorang anak SMP yang bermain layangan hingga tali layangannya melukai anak berusia 5 tahun. Fokus utama jurnal ini adalah menelaah bagaimana hukum pidana Indonesia—khususnya berdasarkan KUHP Nasional 2023—memandang peristiwa yang terjadi karena kealpaan anak. Artikel ini juga mengkaji pendekatan hukum terhadap pelaku anak yang belum dewasa dan bagaimana pertanggungjawaban pidana dapat diarahkan pada orang tua atau wali dalam situasi tertentu.

Kata Kunci

Mens rea, actus reus, anak, kealpaan, pertanggungjawaban pidana, Pasal 36 KUHP 2023.

Pendahuluan

Hukum pidana modern mensyaratkan dua elemen utama agar seseorang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana: actus reus (perbuatan) dan mens rea (niat atau kesalahan batin). Tanpa adanya niat atau kesalahan, seseorang tidak dapat dikenai sanksi pidana, kecuali jika undang-undang menentukan lain. Hal ini diperkuat oleh ketentuan Pasal 36 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP (selanjutnya disebut KUHP Nasional) yang menegaskan bahwa pertanggungjawaban pidana hanya dapat dikenakan atas perbuatan yang dilakukan dengan sengaja atau karena kealpaan.

Permasalahan

1. Bagaimana pembuktian mens rea dan actus reus dalam tindak pidana yang dilakukan oleh anak di bawah umur?

2. Apakah unsur kealpaan dalam Pasal 360 KUHP dapat diterapkan dalam kasus luka akibat tali layangan oleh anak SMP?

3. Bagaimana pertanggungjawaban hukum terhadap anak yang belum mencapai usia pertanggungjawaban pidana?

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan studi kasus. Sumber hukum terdiri dari peraturan perundang-undangan, doktrin, serta studi kasus lapangan yang dianalisis secara kualitatif.

Pembahasan

1. Unsur Mens Rea dan Actus Reus dalam KUHP Nasional

Dalam KUHP Nasional, Pasal 36 secara eksplisit menyebut bahwa perbuatan pidana harus disertai unsur kesengajaan atau kealpaan. Dalam konteks kasus anak SMP yang bermain layangan, perbuatan melepaskan atau memainkan layangan dengan tali yang berpotensi membahayakan di ruang publik dapat dikategorikan sebagai actus reus. Namun pertanyaannya, apakah terdapat mens rea?

Baca Juga:  Dipastikan Diproses, Penanganan Kasus Dugaan Korupsi di Kota Bekasi Tinggal Tunggu Momentum

Jika tidak ditemukan adanya niat untuk melukai, maka pembuktian diarahkan pada culpa atau kealpaan. Berdasarkan Pasal 36 ayat (2) KUHP Nasional, perbuatan karena kealpaan hanya dapat dikenai pidana jika ditentukan oleh undang-undang, misalnya Pasal 360 KUHP.

2. Aplikasi Pasal 360 KUHP

Pasal 360 KUHP menyatakan:

“Barang siapa karena kealpaannya menyebabkan orang lain mendapat luka berat, dihukum penjara paling lama lima tahun…”

Bermain layangan dengan tali yang membahayakan di ruang publik menunjukkan bentuk kelalaian (kurang hati-hati). Meskipun dilakukan oleh anak, unsur kealpaan tetap dapat dikaji melalui norma kehati-hatian yang berlaku umum.

3. Pertanggungjawaban Pidana Anak

Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA), anak yang berhadapan dengan hukum diperlakukan secara khusus. Jika pelaku adalah anak di bawah usia 14 tahun, maka tindakan hukum berupa diversi atau pembinaan sosial lebih diutamakan. Selain itu, tanggung jawab dapat diarahkan kepada orang tua atau wali yang lalai dalam pengawasan.

Dalam konteks kasus ini, apabila terbukti unsur kealpaan terpenuhi, maka:

Anak dapat dikenai proses hukum sesuai dengan UU SPPA, atau

Orang tua dapat dimintai tanggung jawab moral dan perdata atas kelalaian pengawasan.

Kesimpulan

Kasus tali layangan yang melukai anak usia 5 tahun merupakan gambaran nyata bagaimana pentingnya pembuktian unsur mens rea dan actus reus dalam hukum pidana. Walaupun tidak terdapat niat jahat (dolus), perbuatan tersebut dapat dikualifikasi sebagai kealpaan (culpa) sebagaimana dimaksud Pasal 360 KUHP. Dalam hal pelakunya adalah anak, pendekatan restoratif dan perlindungan anak wajib dikedepankan. Namun, pertanggungjawaban tidak semata-mata hilang, melainkan dialihkan atau dimitigasi melalui mekanisme hukum yang humanistik.

Daftar Pustaka

  • Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
  • Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
  • R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana serta Komentar-komentarnya
  • Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana
  • Muladi dan Barda Nawawi Arief, Teori-Teori dan Kebijakan Pidana
  • Willa Wahyuni. (2025). “Mengenali Unsur Mens Rea dalam Praktik Peradilan”, Artikel Hukum Online.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

GEMAKU Bogor: KPK Jangan Berhenti di Tengah Jalan
Kasus OTT Rektor Unsoed: Pemerintah Diminta Segera Lakukan Transformasi dan Audit Investigasi Jalur Mandiri PMB-PTN
Kiprah Jenderal Listyo Sigit tak Diragukan, GNK Ajak Masyarakat Objektif dalam Menilai Kinerja Kapolri
Kasus OTT Rektor Unsoed: Ketika Landasan Kompetensi Mahasiswa Dijadikan Ajang Transaksi
Kapolri: Menitipkan Pesan Sebelum Berpisah
Ditipu Hingga Puluhan Miliar, Jemaah Korban Hanania Travel Minta Negara Hadir Lindungi Rakyatnya
Kejari Indramayu Didesak Eksekusi Pengembalian Aset TPPU Panji Gumilang ke YPI
KPK Dikabarkan OTT Sejumlah Pejabat di Kabupaten Bogor

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 12:55 WIB

GEMAKU Bogor: KPK Jangan Berhenti di Tengah Jalan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 07:24 WIB

Kasus OTT Rektor Unsoed: Pemerintah Diminta Segera Lakukan Transformasi dan Audit Investigasi Jalur Mandiri PMB-PTN

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 22:56 WIB

Kiprah Jenderal Listyo Sigit tak Diragukan, GNK Ajak Masyarakat Objektif dalam Menilai Kinerja Kapolri

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 15:35 WIB

Kasus OTT Rektor Unsoed: Ketika Landasan Kompetensi Mahasiswa Dijadikan Ajang Transaksi

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:40 WIB

Kapolri: Menitipkan Pesan Sebelum Berpisah

Berita Terbaru

Ilustrasi (Foto: Istimewa)

Opini

Mengapa Banyak Pemimpin Sering Berlaku Arogan?

Rabu, 26 Agu 2026 - 16:44 WIB