Media Karya.id – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas. Media pemerintah Iran menayangkan video kontroversial yang secara terang-terangan membahas kemungkinan pembunuhan Barron Trump, putra bungsu Presiden AS Donald Trump.
Video berdurasi sekitar tiga menit itu diberi judul “Where to Kill Barron Trump” atau “Di Mana Membunuh Barron Trump?”. Tayangan tersebut bahkan mengklaim mengetahui pergerakan dan rutinitas Barron yang kini berusia 20 tahun.
Menurut terjemahan yang dikutip Euronews, Kamis (27/8/2026) video itu menyebut Barron “sepenuhnya dipantau” dan menampilkan gambar yang diklaim berkaitan dengan tempat tinggal mahasiswa di New York University (NYU).
Yang lebih mengkhawatirkan, tayangan tersebut juga mengklaim adanya imbalan senilai US$10 juta bagi siapa pun yang membunuh Barron Trump.
Namun, klaim mengenai bounty atau imbalan tersebut, termasuk informasi tentang lokasi dan pergerakan Barron, belum dapat diverifikasi secara independen.
Video itu juga disebut mengklaim telah menemukan akun Barron di sejumlah platform permainan dan komunikasi daring, termasuk Xbox, FIFA, dan Discord. Bahkan, nama dua orang yang disebut sebagai teman sekelasnya turut ditampilkan.
“Ini baru permulaan! Barron Trump, tunggu kami!” demikian pesan yang disampaikan pada bagian akhir video tersebut.
Diduga Disebarkan Media Terkait IRGC
Tayangan kontroversial itu disebut disebarkan melalui media yang memiliki keterkaitan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Ini bukan kali pertama media yang berafiliasi dengan Iran menampilkan konten yang secara langsung mengancam keluarga Trump.
Pada Juli lalu, media Tasnim News Agency juga merilis video berjudul “Where to Kill Melania?” yang mengklaim mengetahui lokasi Melania Trump, istri Presiden Trump.
Pada bulan yang sama, sebuah papan reklame di Islamic Revolution Square, Teheran, menampilkan gambar Trump seolah-olah berada dalam peti mati dengan tulisan berbahasa Inggris, “We Kill Trump.”
Media yang didukung Iran juga sebelumnya menyebarkan video bertajuk “Where to Kill Trump?!” yang mengklaim menunjukkan rute perjalanan iring-iringan kendaraan kepresidenan Trump ketika menuju dan meninggalkan kediamannya di Florida serta New York.
Ancaman terhadap Keluarga Trump Meningkat
Trump sendiri telah menghadapi ancaman pembunuhan dari Iran pada masa lalu. Hubungan Washington dan Teheran semakin memburuk setelah serangan drone AS pada Januari 2020 yang menewaskan komandan Pasukan Quds IRGC, Jenderal Qassem Soleimani.
Ketegangan kembali meningkat setelah perang terbaru di kawasan tersebut dan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam serangan Israel pada Februari.
Di tengah eskalasi tersebut, pemerintahan Trump juga terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menggambarkan langkah terbaru Washington sebagai “economic D-Day”, sebuah ofensif ekonomi besar-besaran yang menurutnya ditujukan untuk menghancurkan kemampuan ekonomi Iran.
Tekanan tersebut datang ketika kondisi ekonomi Iran semakin memburuk. Nilai tukar rial dilaporkan merosot hingga sekitar 1,5 juta rial untuk US$1, mencerminkan tekanan berat terhadap perekonomian negara tersebut.
Sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, juga memperingatkan memburuknya kondisi ekonomi dan membuka kemungkinan tercapainya kesepakatan dengan Washington.
“Seberapa pun besar kekuatan militer yang kita miliki, jika rakyat kelaparan dan tidak ada perputaran keuangan serta pertumbuhan ekonomi, kita tidak akan bertahan,” kata Ghalibaf.
Sementara itu, Trump terus membanggakan tekanan yang diberlakukan pemerintahannya terhadap Iran. Dalam unggahan di media sosial, ia bahkan menyatakan bahwa “Iran benar-benar runtuh.”
Di tengah perang tekanan ekonomi dan militer tersebut, munculnya video yang secara terbuka menargetkan putra presiden AS menunjukkan bahwa konflik Iran-Amerika telah berkembang menjadi ancaman yang menyentuh langsung lingkaran keluarga kepemimpinan Washington.











